Scroll ke bawah untuk melihat konten
Bahasa & Sastra

Asal Mula Negeri Tiga Lorong

×

Asal Mula Negeri Tiga Lorong

Sebarkan artikel ini
Tiga Lorong. (Ilustrasi: budayamelayuriau.org)

“Inilah negeri Sibuai Tinggi,” dijawab oleh orang kampung itu.

Kalau begitu, inilah tempat Raja Dubalang yang disebut-sebut orang itu, pikir Tiga Beradik. Dan, seperti retak tangan yang bagus, maka bertemulah Tiga Beradik itu dengan Raja Dobalang. Langsung diajaknya orang Tiga Beradik menyabung ayam di gelanggang.

Advertisement
Scroll ke bawah untuk melihat konten

Orang Tiga Beradik menanyakan. “Apa pantang larangnya tuan?”

Dengan ponggah Raja Dobalang menjawab:

Pertama dilarang bersorak dan bertepuk tangan.

Kedua dilarang memekik dan menghentak tanah.

Ketiga dilarang menyingsingkan lengan baju.

Dan keempat dilarang memutar keris di depan badan.

Peraturan itu ditetapkan sendiri oleh Raja Dobalang secara sepihak.

“Siapa saja yang melanggar peraturan itu dianggap kalah,” kata Raja Dobalang dengan tegas.

“Berapa taruhannya?” Tanya salah seorang dari Tiga Beradik.

“Tanah Inuman di sebelah kiri mudik Sungai Indragiri, lebar dan panjangnya sehabis pemandangan dari gelanggang di Sibuai Tinggi,” jelas Raja Dobalang,

Tiga Beradik terperangah mendengar besarnya taruhan Raja Dobalang. Tapi mereka diam saja karena ragu apa gerangan sandingan dengan taruhan begitu besar dan luas itu?

“Hei Orang Tiga Beradik, berapa taruhan kalian?” Tanya Raja Dobalang tidak sabar.

Dengan percaya diri mereka pun berujar serentak.

“Tanah Danau Koto Siambung di sebelah kiri mudik Sungai Indragiri. Lebar dan panjangnya sehabis mata memandang dari gelanggang di Sibuai Tinggi,” orang tiga beradik itu tersenyum karena mereka pun tak paham wilayah yang dipertaruhkannya itu. Manalah bisa memandang Koto Siambung jika dilihat dari Sibuai Tinggi, pikir mereka.

Baca Juga:  Legenda Gadih Tanaku dan Cerita Lainnya

Raja Dobalang pun tidak memikirkan taruhan tiga beradik itu. Dia pun tidak peduli karena negeri di hilir Kuantan itu akan dibabat habis untuk wilayah kekuasaannya. Raja Dobalang pun menganggap enteng lawan tandingnya itu.

“Kapan kita menyabung, orang Tiga Beradik?” Tanya Raja Dobalang.

“Terserah tuan,” jawab Orang Tiga Beradik serentak.

“Kalau begitu, dua hari lagi dan hari ketigalah kita bertanding, sebab kami hendak mengumpulkan rakyat terlebih dahulu.”

***

Pada hari yang telah ditentukan, berkumpullah datuk-datuk dan para penghulu serta rakyat di tempat gelanggang. Bergemuruhlah tepuk tangan dan sorak-sorai pengunjung. Ketika adu tanding dimulai heninglah di gelanggang itu. Raja Dobalang pun melepas ayam jagonya yang diikuti dengan pelepasan ayam betina Orang Tiga Beradik.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *