Scroll ke bawah untuk melihat konten
Bahasa & Sastra

Topian Komang-Kuantan Singingi

×

Topian Komang-Kuantan Singingi

Sebarkan artikel ini
Topian Komang. (Ilustrasi: budayamelayuriau.org)

KONON, menurut kisah di dusun Sikakak, Kenegerian Cerenti, Rantau Kuantan terdapat tempat mandi masyarakat yang biasa disebut topian atau tepian yakni daerah pinggir batang atau sungai Kuantan yang merupakan hulu Sungai Indragiri. Selain tempat mandi, masyarakat Melayu memanfaatkan topian juga sebagai tempat mencuci pakaian dan alat-alat dapur. Di topian itu juga terdapat sebuah pohon yang  dikenal dengan pohon komang, anehnya pohon ini hanya satu batang dan tidak ada pohon lain yang tumbuh di sana. Batang pohon ini sangat besar menjulang tinggi. Daunnya sangat rindang.

Menurut cerita, dahulu pohon besar ini ada penunggunya dari bangsa makhluk halus. Penduduk dusun tersebut sering mengingatkan anaknya apabila hari sudah mulai Magrib secepatnya masuk ke rumah. Konon menurut cerita, ada salah seorang penduduk dusun Sikakak pernah menjumpai wanita berpakaian serba putih tegak di pohon tersebut sewaktu azan Magrib berkumandang. Namun, sebagian masyarakat yang hidup waktu itu kurang mempercayai hal-hal seperti itu. Pernah juga penduduk dusun itu sesekali mendengar suara perempuan menangis di pohon tersebut. Tetapi setelah didekati suara itu makin jauh, didekati lagi semakin jauh dan menghilang dibawa angin. Hal ini membuat penduduk dusun itu ingin tahu siapa sebenarnya perempuan yang menangis itu.

Advertisement
Scroll ke bawah untuk melihat konten

Pada suatu malam seorang orang tua yang dikenal oleh penduduk dusun itu, Datuk Hitam namanya. Orang tua ini konon memiliki ilmu untuk menjinakkan segala jin yang berada di hutan belantara. Datuk Hitam berjalan mendekati pohon itu. Dilihatnya dari atas sampai ke bawah sungai. Terlihat olehnya seorang perempuan yang berpakaian serba putih dengan wajah ditutupi rambut yang panjang. Wanita itu mandi dan mencuci di tempat penduduk dusun biasa untuk mandi dan mencuci pakaian. Datuk Hitam bergegas mendekati wanita itu, namun wanita itu menghilang dalam sekelip mata. Hanya tinggal kepulan asap menuju pohon yang besar itu.

Baca Juga:  Legenda Putri Indera Dunia

“Siapa kau orang tua? Kenapa kau berani sekali datang pada malam begini?” tanya perempuan itu dengan suara agak samar.

“Aku adalah orang tua di dusun ini yang sengaja berjalan menjaga kampung,” jawab Datuk Hitam.

“Siapakah kau?” tanya Datuk Hitam.

“Siapakah kau?” tanyanya kembali dengan suara yang lebih keras.

Tidak ada jawaban dari perempuan yang menghilang itu. Suasana semakin tegang, sekali-sekali angin bertiup mengoyangkan daun-daun pohon komang. Tiba-tiba terdengar suara.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *