“Nasib digerakkan Allah masing-masing,” kata yang Tengah melihat peti kepala Raja Dobalang.
“Tuhan memperlihatkan jalan,” kata yang Tua mensyukuri.
“’Berani karena benar, itu tidak berbahaya,” sahut yang Tengah meyakinkan.
“Benar Bang, takut karena salah, itu mendapat bahaya,” kata yang Tua lagi.
“Tunggu nasib, terus makan dan minumlah,” kata yang kecil kemenakannya.
Sesudah perbualan singkat itu mereka pun makanlah di perahu.
Tak lama berselang datanglah Raja Kuantan dengan penghulu-penghulunya menemui orang Tiga Beradik itu. Raja Kuantan dan penghulu-penghulunya itu meminta kesediaan Tiga Beradik itu menginap selama delapan hari untuk dijamu di istananya sebagai rasa syukur dan ucapan terima kasih yang setinggi-tingginya.
“Perahu Tiga Beradik kami tahan sampai delapan hari, sebab Raja kami dan Penghulunya mempunyai hajat,” kata salah seorang penghulu Raja Kuantan kepada orang Tiga Beradik.
Melihat kesungguh-sungguhan Raja Kuantan dan Penghulunya, maka disetujuilah oleh Tiga Beradik hanya beberapa hari saja.
“Permintaan Tuanku dan penghulu Kuantan bolehlah empat hari kami kabulkan,” kata yang Tua.
Jawab Raja Kuantan dengan penghulunya, “baiklah sampai empat hari.”
Raja dan penghulu Kuantan menjamulah dengan kesenangan yang mewah-mewah. Terasalah oleh mereka kesenangan dunia dan penghormatan yang dalam diberikan oleh Raja Kuantan. Mereka memberi makan dan minum di Istana Raja Kuantan. Mereka melepas lelah.
***
Sesudah makan dan minum orang Tiga Beradik tadi mohon pamitlah. Namun, Tiga Beradik dibawa ke alun-alun kerajaan dekat istana. Disaksikan oleh rakyat Kuantan, penghulu, dan Raja Kuantan diberi karunia kepada Orang Tiga Beradik itu, yaitu sehelai bendera adat kehormatan berwarna hitam. Dan, ketika itu ditetapkanlah yang memakainya Datuk Mangkuto. Tiga beradik itu diantarlah ke tepian Raja oleh seluruh pembesar-pembesar kerajaan dan rakyatnya. Mereka menghiliri Batang Kuantan dan Sungai Inderagiri itu.
Akhirnya sampai mereka di tepian raja. Peti yang berisikan kepala Raja Dobalang dipikul. Kepala itu dibungkus dengan kain belacu putih oleh Yang Kecil. Sampai di rumah Yang Dipertuan Besar dipersembahkanlah peti berisi kepala Raja Dobalang tersebut kepada Yang Dipertuan Besar Indragiri. Rakyat Indragiri yang tahu dengan kedatangan Tiga Beradik dan rombongan itu datang berbondong-bondong ke istana di Pekan Tua. Maka dibukalah peti itu, alangkah herannya Yang Dipertuan Besar Indragiri karena kepala Raja Dobalang tersebut berpusing-pusing.








