Yang Dipertuan Besar Indragiri bertanya kepada orang Tiga Beradik yang perkasa itu di depan menteri-menterinya dan orang-orang di kampung.
“Engkau telah menjalankan amanah kerajaan Indragiri dengan baik, sekarang apa yang kalian sukai?” Yang Dipertuan Besar membuka percakapan.
Menteri-menteri dan segala rakyat Indragiri yang hadir di istana berdecak-decak dan berandai-andai.
“Cch cch ch, seandainya aku yang dianugerahi seperti itu aku akan minta emas,” kata seorang yang menyaksikan acara itu.
“Kalau aku tidak. Aku akan minta uang,” kata yang lain lagi.
“Tapi kalau aku akan minta istana,” sahud yang lain lagi.
Sebab pastilah Yang Dipertuan Besar akan memberinya.
Orang Tiga Beradik tidak segera menjawab. Karena ia tahu bahwa mereka memenuhi tugas itu dengan keikhlasan bukan mengharapkan imbal jasa.
Bertanya lagi Yang Dipertuan Besar Indragiri.
“Apa yang kalian kehendak hai tiga Tiga Beradik? Katakan saja, akan kalau mampu hamba akan kabulkan,” desak raja Yang Dipertuan Besar Indragiri.
Karena terus didesak dan diberi pengertian bukan imbal jasa, maka Tiga Beradik pun menjawab
“Kami hanya meminta sesuatu yang tidak lekang karena panas dan tidak lapuk karena hujan.”
Yang Dipertuan Besar pun mengernyitkan dahi, memahami apa yang dimaksud oleh Tiga Beradik itu.
“Baiklah,” jawab Yang Dipertuan Besar Indragiri. Akan saya pikirkan, kira-kira apa yang dimaksudkan oleh Tiga Beradik secara tepat.
Dalam masa delapan hari, Yang Dipertuan Besar dan para menteri serta orang-orang tua kampung mengadakan rapat membicarakan perihal permintan yang aneh orang Tiga Beradik. Segala menteri dan orang-orang tua kampung dikerahkan mencari apa yang dimaksudkan oleh Orang Tiga Beradik itu
Maka digerakkan Allah pikiran mereka masing-masing dan sepakat dapat jawabannya tujuan dan ucapan Tiga Beradik itu “diberi pangkat” saja.
Setelah sampai delapan hari dititahlah oleh Yang Dipertuan Besar kepada orang Tiga Beradik itu, apakah yang dimaksudkan dengan ungkapan permintaannya itu pangkat?
“Betul itu tujuan ucapan permintaan orang Tiga Beradik?”
“Betul tuanku,” jawab Tiga Beradik serempak
Dipanggillah segala menteri-menterinya serta semua rakyat berkumpul di Istana Yang Dipertuan Besar. Orang Tiga Beradik diangkat menjadi “Penghulu Tiga Lorong”.
Pertama Yang Tua saudaranya yang bernama Sabila Jati, dianugerahi gelar Dana Lelo diangkat menjadi Penghulu Pematang Selunak hingga ke Batang hari, diberi bendera berwarna hitam.
Kedua Yang Tengah kemenakannya dianugerahi gelar Raja Mahkota, diangkat menjadi Penghulu Baturijal Hulu berbatasan langsung dengan Kuantan mendapat dua bendera. Bendera merah dan bendera hitam.
Ketiga yang kecil anaknya bernama Tiala dianugerahi gelar Lela Diraja penghulu Baturijal Hilir hingga Sungai Indragiri diberi bendera putih.
Sesudah diangkat menjadi penghulu di kerajaan Indragiri, ketiga bersaudara itu juga diakui sebagai “anak emas” Yang Dipertuan Besar Indragiri. Mereka dijanjikan oleh Yang Dipertuan Besar Indragiri bertempat tinggal di atas tanah yang sejuk, rumput yang muda, air yang jernih, ikan yang jinak. ***
1 Versi ini bersumber dari Tambo. Naskah tidak ada judul, dok. Syafei Thaib. Menurut catatan naskah, Tambo ini ditulis oleh Haji Janggut Penghulu Baturijal Hilir. Ditulis pada kertas kwarto bergaris ukuran standar A4. Menurut banyak informasi, ada beberapa versi Tambo di wilayah Tiga Lorong ini. Belum ada penelitian lebih jauh tentang versi-versi itu. Penghulu Tiga Beradik atau Tiga Lorong juga sudah menjadi cerita rakyat.
2 Versi lisan lainnya yang masih hidup karena selalu diceritakan antara lain bahwa ketiga orang ini adik beradik, seibu sebapak.
Rujukan:
Putra, H. Derichard, dkk. 2007. Cerita Rakyat Daerah Riau. Pekanbaru: Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Provinsi Riau








