Ayam jantan Rajo Dobalang dan ayam betina Tiga Beradik itu pun langsung beradu tanding. Sekali mencakar ayam-ayam itu belum apa-apa. Dua kali juga belum apa-apa.. Dan, kali yang ketiga cakaran ayam jantan Rajo Dobalang mengena sayap kiri ayam betina itu. Ayam Tiga Beradik itu tersungkur dan hampir kalah. Melihat kenyataan itu gembiralah Raja Dobalang. Bukan main senangnya Raja Dobalang dan orang-orangnya di tempat gelanggang itu. Karena sangat gembira, Raja Dobalang pun lupalah aturan yang dibuat semula. Ia bersorak melihat ayam orang Tiga Beradik itu terkena terlebih dulu dan tersungkur. Dia tidak ingat aturan yang dibuatnya sendiri. Tidak hanya bersorak dan bertepuk tangan tapi juga memekik dan menghentak tanah.
Ayam betina itu pun bangkit, dan melawan ayam jago Rajo Dobalang. Terus saling mencakar. Pertarungan terus berlangsung. Dan, ah… cakar yang entah ke berapa kalinya taji ayam betina itu mengena leher ayam jantan Raja Dobalang, hampir putus lehernya, hingga tidak kuat lagi memukul. Jangankan mencakar, berdiri saja ayam Raja Dobalang itu pun tak kuat, jalannya terhuyung-huyung.
Melihat kondisi ayamnya seperti itu maka lenyaplah kegembiraan Raja Dobalang. Raja tak berhati jantung ini pun naik pitam, dia tidak peduli dengan aturan yang dibuatnya.
Raja Dobalang murka dan warna mukanya menjadi merah, putih, hitam sampai memekik, menghentak tanah, menyingsing lengan baju, memutar keris ke depan terus menikam pada orang Tiga Beradik. Sekali sampai dua kali menikam. Orang Tiga Beradik hanya mengelak. Mereka menghadapinya dengan sabar dan tenang. Tidak tampak di wajah mereka akan terpancing emosinya. Seolah-olah keadaan yang buruk sekali pun sudah terbaca sebelumnya.
Pertarungan ayam terus berlangsung. Raja Dobalang terus melanggar aturan yang dibuatnya sendiri. Tapi akhirnya, setelah kesabaran tidak lagi diperlukan untuk mempertahankan yang benar, maka Orang Tiga Beradik bergurindam:
Penat mau bergalah coba-coba mengalas
Penat hendak mengalah dicoba membalas
Keris bersarung emas buatan Mojopahit pun diayunkan. Lalu Nan Tengah mengangkat pedang Jenawi hulu yang bertatahkan intan. Dan diikuti si Kecil menghunuskan lembing bersarungkan emas dan suasa. Maka, membahanalah genderang perang membela kebenaran, mempertahankan yang hak, dan mengalahkan yang batil.
Tiala, saudara yang tua, lebih dulu menikam Raja Dobalang terus tergeletak. Raja Dobalang mencoba bangkit. Disambut pula oleh adiknya yang tengah, Sabila Jati, dicincangnya Raja Dobalang terus jatuh ke tanah. Datang lagi si kecil kemenekannya, Jo Mahkota, ditikamnya Raja Dobalang. Dan, tergeletaklah Raja Dobalang.
Tiga Beradik terus was-was terhadap Raja Dobalang itu. Mereka pelan-pelan dan mengendap-endap mendekati tubuh Raja Dobalang.
“Lihat,” kata Jo Mahkota, “tidak ada lagi nyawanya.”
Lalu mendekatlah adik yang Tengah. Dipotongnyalah kepala Raja Dobalang. Dimasukkan ke dalam peti. Terus mereka pergi membawa kepala Raja Dobalang ke Indragiri. Mereka pergi turun ke perahu. Sampai di perahu dilihat mereka peti itu terpana melihat keberhasilan mereka mengalahkan orang yang paling ditakuti dan pembawa bencana di rantau Kuantan selama ini.








