Scroll ke bawah untuk melihat konten
Bahasa & Sastra

Putri Guguk Arai Mayang

×

Putri Guguk Arai Mayang

Sebarkan artikel ini
Putri Guguk Arai Mayang. (Ilustrasi: budayamelayuriau)

PADA masa dulu adalah seorang anak raja. Ketika baginda hendak berangkat pergi ke laut, beliau berpesan kepada permaisurinya, “Kalau lahir anak kita, jika lelaki anak itu peliharalah baik-baik. Akan tetapi apabila anak perempuan yang lahir, hendaklah anak itu dib*n*h”.

Dengar takdir Tuhan yang maha kuasa, tak lama setelah raja itu pergi ke laut, permaisuri itu melahirkan seorang anak perempuan. Cahaya wajahnya gilang-gemilang mengasyikan apabila dipandang. Karena itu permaisuri paun mencarilah akal untuk menyelamatkan puterinya itu.

Advertisement
Scroll ke bawah untuk melihat konten

Permaisuri itu lalu berpikir, berpikir dan berpikir lagi sekeras-kerasnya. Akhirnya dapatlah akal. Dia lalu membnh seekor kucing, dan menanam kicung yang sudah mati itu di pangkal tangga. Sedangkan anak perempuannya diberiknya nama Puteri Guguk Arai Mayang, diantarkan ke Bukit Sigalumpang.

Bertahun-tahun kemudian raja pun kembali dari perjalanan di laut. Baginda lalu bertanya kepada permaisuri. katanya, “Lelaki atau perempunkah anak kita”
“Perempuan,” jawab permaisuri.
“Sudahkah dib*n*h?”
“Sudah”.
“Di mana kuburannya?”Itu, di pangkal tangga”.

Lalu burung gagak peliharaan sang raja pun berbunyi, “Gak, gak, gaaaam! Gak, gak, gaaaam! Gak, gak gaaaam!”
“Apa kata gagak itu?” tanya sang Raja.
“Apa katanya?” pengiringnya balik bertanya.
“Apa artinya Gak, gak, gaaam! Gak, gak, gaaam! Gak, gak gaaaam?” Raja pun bertanya kepada pengiringnya yang paling setia, “Apa kata gagak itu, Selamat?”
“Kata Gak, gak, gaaaaam! Gak, gak, gaaaaam! Gak, gak, gaaaaam!” Selamat menirukan bunyi burung itu.
“Tuanku,” sambung Selamat. “Artinya yang lahir perempuan. Diberinya nama Puteri Guguk Arai Mayang. Diantar ke Bukit Sigalumpang. Dibnhnya kucing, ditanam pada pangkal tangga. Aku tak diberi makan,” jelas Selamat yang sudah biasa memfaal bahasa burung gagak.

Baca Juga:  Legenda Datuk Jimban dan Putih Jarum Pemilin

Mendengar jawaban pengiring setianya itu, bukan main marahnya sang raja. Wajah merah menyala seperti hampir menyemburkan api yang menjilat-jilat disekitarnya.
“Kalau begitu, Selamat,” kata sang raja, “segeralah pergi engkau ke Bukit Sigalumpang. Bawa anak itu ke sini, hendak kubnh dia”.
Karena itu pergilah Selamat ke Bukit Sigalumpang. Dari bawah ia berseru-seru memanggil Puteri Guguk Arai Mayang.

Puteri Guguk Arai Mayang
Tinggal di Bukit Sigalumpang
Raja menyuruh turun juga!

Dari atas ruamah terdengar suara yang sangat merdu menyahut panggilan Si Selamat.

Selamat pergilah dahulu
Aku lagi bertenun kain untuk ayah

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *