“Kita harus memburu musuh itu sejauh-jauhnya,” kata Pangeran Suta di antara api unggun yang marak berdelau-delau pada suatu malam. “Musuh itu harus merasakan bahwa serangan yang kita berikan menimbulkan rasa gerun kepada hati mereka sehingga tak akan datang mengulanginya lagi.”
Petua perang yang diberikan oleh pemimpinnya itu menimbulkan semangat baru dan rasa gembira pasukan itu. Tempik serok bergemuruh di tengah hutan lebat mengiring kata-kata pangeran muda yang sangat dihormati itu.
Akhirnya pasukan Raja Bayang dan ketiga saudaranya itu kocar-kacir karena terus diburu oleh pasukan Pangeran Suta. Keempat anak raja itu pulang ke negerinya menempuh perjalanan jauh dengan menanggung rasa malu karena kekalahan yang amat besar.
Pasukan Pangeran Suta kembali ke Jepura. Utusan pun dikirim ke Gaung untuk menjemput Sultan Hasan kembali ke pusat kerajaanya. Perayaan yang amat bersemarak diadakan untuk menyambut kemenangan dan perkawinan antara Pangeran Suta dengan putri Raja Hasan yang bernama Raja Halimah.***
Catt: Pusat pemerintahan yang berpindah-pindah itu terlihat, misalnya pada masa Sultan Abdul Jalil Syah (III) (1623-1677) Johor diserang dan dikalahkan oleh angkatan Jambi pada 1673. Pusat kerajaan dipindahkan ke Pahang, Sultan Abdul Jalil Syah (III) memberi kuasa kepada Laksamana Tun Abdul Jamil, beliau membina kembali kekuatan Johor, pada 1679 Laksamana Tun Abdul Jamil berjaya mengalahkan Jambi. Namun, pada 1683 pusat kerajaan kerajaan Johor kembali dipindahkan ke Johor. Selepas itu, perpindahan pusat kerajaan dari Johor ke Riau dan sebaliknya juga terjadi pada 1708 semasa kerajaan Sultan Abdul Jalil Riayat Shah. Pada tahun itu saja terjadi tiga kali perpindahan pusat kerajaan. Berdasarkan catatan perpindahan yang berulang-alik itu, pusat kerajaan bagi kerajaan Melayu Johor-Riau bukanlah suatu hal yang penting bagi masyarakat dan elit kerajaan. Kedudukan ‘pusat kerajaan’ dalam pandangan kerajaan Melayu tidak dimitoskan dan tidak dikeramatkan.








