Scroll ke bawah untuk melihat konten
Bahasa & Sastra

Pangeran Suta dan Raja Bayang

×

Pangeran Suta dan Raja Bayang

Sebarkan artikel ini
Pangeran Suta dan Raja Bayang. (Ilustrasi: budayamelayuriau.org)

Tak adalah orang menyebut nama batang tubuhnya setelah itu sehingga tiadalah kita ketahui siapa namanya dahulu. Ia sudah dikenal sebagai Pangeran Suta karena setelah dihitung-hitung dan ditimbang-timbang ternyata selama berperang ia belum sekalipun menjadi pecundang atau kalah dengan mendapat malu.

Banyak sudah laut yang ia layari. Banyak sudah pulau yang ia lalui. Banyak sudah ia rasakan luka di mana-mana anggota badan.

Advertisement
Scroll ke bawah untuk melihat konten

Apakah artinya lelaki kalau tidak berhiaskan parut bekas luka di badannya?

Dalam keadaan terbuang di Gaung, Sultan Hasan menghimpun para menterinya. Mereka merundingkan bagaimana jalannya agar dapat mengundang pangeran Suta datang ke Gaung dan menghapus malu yang telah dibuat oleh Raja Bayang dan saudara-saudaranya.

Setelah perundingan dianggap masak, lalu diutuslah Datuk Tumenggung untuk mencari Pangeran Suta berada.

Pada suatu pagi yang cerah berangkatlah sebuah keci dari Gaung berlayar ke laut lepas. Di perairan Jambi didapat keterangan bahwa Pangeran Sultan sedang berada di sekitar selat Malaka dalam pelayanan mengusir lanun yang menganggu arus pelayaran dan perniagaan.

Berminggu-minggu Datuk  Tumenggung berlayar pulang-balik dari utara ke selatan mengitari selat Malaka. Akhirnya berhasil juga ia menjumpai Pangeran Suta ketika itu sedang memperbaiki kenaikannya di Pulau Bangka. Segeralah Datuk Tumenggung menceritakan kesulitan yang dihadapi oleh rajanya, Sultan Hasan. Dengan ramah dan lemah lembut Pangeran Suta menyanggupi untuk membalas atas malu yang telah ditanggung oleh Sultan kerajaan Inderagiri itu.

Baca Juga:  Legenda Gua Pelintung-Kota Dumai

Lalu berangkatlah Pangeran Suta dan Datuk Tumenggung dengan kenaikan masing-masing layar menuju ke Gaung. Luar biasalah sambutan yang diberikan oleh Sultan Hasan pada orang yang membantunya itu.

Setelah perundingan antara Sultan Hasan bersama menteri-menterinya dengan Pangeran Suta berlangsung, lalu pangeran itu mempersiapkan alat-alat peperangan. Pasukan yang sudah terlatih dalam perang baik di darat maupun di laut segera membuduki sungai Indragiri. Lalu pasukan itu mendarat dan terus mara menuju ke Jepura.

Di sinilah pertempuran yang sengit terjadi karena dua kekuatan yang sama-sama tahan uji dan sama-sama hendak berlaga sekuat tenaga. Setelah berperang selama beberapa hari ternyata serangan yang dilakukan olah pasukan Pangeran Suta tak tertahankan oleh pasukan Raja Bayang dan saudara-saudaranya.

Raja Bayang dan ketiga saudaranya mundur ke pedalaman, terus diburu oleh pasukan Pangeran Suta. Kepada seluruh anggota Pasukannya Pangeran itu mengatakan bahwa suatu serangan tak boleh berhenti hanya karena musuh mundur.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *