ALKISAH tersebutlah pada masa pemerintahan Sultan Hasan Salehuddin Keramat Syah pemerintah dikerajaan Indragiri, datanglah seorang anak dari negeri nan jauh. Namanya Raja Bayang.
Ia datang diiringi oleh tiga orang saudara lelakinya masing-masing bernama Raja Hijau, Raja Mestika, Raja Lahis. Mereka datang melintasi hutan rimba yang lebat, lembah dan ngarai yang dalam, dan menyusur aliran sungai selama tiga kali tujuh hari berjalan darat. Keempat anak raja itu datang lengkap dengan pengiring dan pasukan balatentara yang tahan lasak dan tahan uji. Tak heran kalau badan orang-orang itu terlihat seperti kayu yang kekar dan amat kuat. Meskipun dapat dilenturkan dan dapat dipiuh tapi sukar untuk dipatahkan.
Begitu angkatan Raja Bayang hendak memasuki negeri Indragiri maka gemparlah semua hamba rakyat dibuatnya. Tak amanlah tebu dan pisang di kebun, ayam itik kambing dan kerbau di kandang, apatah lagi padi di tempayan. Anak-anak dara berkerubung dengan kain sarung di dalam rumah. Takut bepergian, takut pada keberingsan pasukan yang datang tak semena-semena.
Banyak pengaduan yang datang ke istana tentang kelakuan para “pendatang haram” yang tak senonoh itu. Karena itu, akhirnya Sultan Hasan merasa sangat risau dan berduka-cita.
“Ampun tuanku beribu-ribu ampun,” sembah seorang di antara menteri kepada Sultan Hasan di istanya di Jepura. “Ada seorang anak raja yang datang diiringi oleh tiga orang saudaranya dan pasukan tentera yang kuat mengharu-birukan rakyat kerajaan tuanku.”
“Bagaimana pikiran Mamanda Menteri mengĀhadapi hal itu?” tanya Sultan Hasan kepada menterinya.
“Pasukan Raja Bayang itu terlalu kuat untuk dapat kita lawan,” jawab menteri itu. “Pasukannya terdiri dari orang-orang yang tahan lasak dan handal sekali berperang. Mereka sudah terbiasa hidup dalam rimba dan mengacau di dalam kota.”
“Jadi apa pendapat Mamanda?” tanya Sultan Hasan lagi.
“Baiknya kita tunggulah dahulu apa yang dikehendaki oleh anak raja itu,” kata menteri itu pula.
Beberapa hari kemudian datanglah ke istana Jepura beberapa utusan dari Raja Bayang dan saudara-saudaranya menyatakan pinangan kepada putri Sultan Hasan yang bernama Raja Halimah. Namun piĀnangan itu ditolak mentah-mentah oleh Sultan Hasan. Mana mungkin ia bermenantukan seorang anak raja yang datang dengan cara menceroboh ke kawasan kekuasaannya. Mana mungkin putrinya, Raja Halimah, yang lemah lembut itu bersanding dengan seorang anak raja yang kasar dan tak mengenal sopan santun?








