Penolakan pinangan Raja Bayang terhadap putri Sultan Hasan itu membuka jalan untuk peperangan. Maka tak ayal lagi pasukan Raja Bayang pun bergerak ke Jepura dan memporak-porandakan istana kerajaan Inderagiri. Pertempuran yang singkat menyebabkan Raja Bayang segera dapat mengalahkan Sultan Hasan. Raja Indragiri itu lalu melarikan diri ke Gaung. Di sinilah baginda mendengar tentang Pangeran Suta. Diutusnya orang untuk menjemput kedatangan Pangeran Suta yang berlayar pulang balik antara Jambi, Riau, dan Asahan.
Seorang raja memang senantiasa berhadapan dengan tantangan yang berjarak sangat jauh dari tebing di sebelah sini dengan tebing di sebelah sana. Ibarat sebatang sungai itulah kerajaanya dan sang raja berada di antaranya. Makin besar kerajaannya makin besar sungai itu dan makin jauh jarak antara kedua tebing. Apabila terjadi sesuatu hal sang raja dapat sangat menderita karena dari tempat yang tinggi jatuh ke tanah lebih menyakitkan.
Demikianlah halnya dengan Sultan Hasan Saefuddin Keramat Syah terbuang dari pusat pemerintahan di sebelah hulu sungai besar negerinya. Baginda pun terbuang di Gaung. Santapan yang serba nikmat telah berganti dengan makanan yang sederhana pada mula masa kekalahannya. Tapi bagi seorang raja Melayu ini sudah diperhitungkan dalam adat istiadat beraja. Pusat pemerintahan negeri Melayu memang tidak dibuat untuk kekal di suatu tempat.
Pusat pemerintahan itu boleh saja berpindah-pindah. Yang tak boleh berpindah ialah daulat yang dikandung sang raja.1
Inilah yang sebenarnya menjadi dasar penolakan Raja Bayang kepada putri Sultan Hasan. Seorang anak raja tidak harus kawin dengan orang yang mendatangkan kerusakan pada negeri. Kalau seandainya Raja Bayang adik beradik datang dengan baik-baik dan membangun negeri serta tidak merusak dan menceroboh hamba rakyat tentulah tidak ada alasan untuk menolaknya.
Bukan mereka itu anak raja juga?
Tapi mereka datang dengan membuat kerusakan negeri. Tebu dan pisang di kebun, padi di tempayan, anak-anak dara orang dirusak diganggu sehingga rusak binasa, maka jalan perkawinan di antara keturunan mereka pun tertutuplah.
Sultan Hasan pada suatu saat mendapat keterangan tentang seorang anak raja yang berasal dari negeri sebelah timur yang jauh dijadikan menantu oleh Sultan Jambi karena anak raja itu terkenal dengan baik kelakuan dan berjasa kepada negeri Jambi. Ia diberi gelar sesuai dengan adat istiadat negeri itu: Pangeran Suta namanya.








