Scroll ke bawah untuk melihat konten
Bahasa & Sastra

Gasing Betuah

×

Gasing Betuah

Sebarkan artikel ini
Gasing Bertuah. (Ilustrasi: budayamelayuriau.org)

Pada malam harinya gelanggang yang akan dijadikan tempat permainan gasing itu penuh dengan enam pasuk panjak joget. Banyak para peserta perlombaan yang ikut menari. Si Kupang tak berani memasuki tempat itu karena pakainnya buruk, dan uangnya pun sedikit. Dari jauh ia hanya melihat orang-orang yang bergembira itu. Ada seorang penari joget yang sangat memikat hatinya. Perempuan joget  yang siput jogetnya bersuntingkan bunga raya menari sambil bernyanyi dengan suara berdedai-dedai sambil menjeling kepada si Kupang.

lumba-lumba main gelombang
riaknya sampai ke Indragiri
coba-coba menanam mumbang
kalau hidup payung negeri

Advertisement
Scroll ke bawah untuk melihat konten

Orang semua sibuk memuji penari joget itu. Mereka menyebutkan namanya, Bedah. Pantun dan jelingan mata joget yang bernama Bedah itu tak dapat dilupakan oleh si Kupang. Malam itu ketika hendak tidur, ia asyik berkhayal pada rupa dan lenggang-lenggok penari itu. Tapi ia segera teringat pada pesa emaknya, “Jangan engkau lupa tujuanmu datang ke kota Raja, Kupang. Bukan untuk bersenang-senang, tapi untuk mengadu nasib. Untung batu tenggelam, untung sabut timbul”.

Gelanggang pun dibuka keesokan hari. Pagi-pagi sekali para peserta yang berjumlah lebih seratus orang itu memainkan gasing masing-masing secara serentak. Ketika matahari sudah sepenggalah barulah didapatkan duabelas peserta yang gasingnya berputar paling lama.

Baca Juga:  Legenda Puti Piturani

Tepat tengah hari, ketika matahari tepat di ubun-ubun, keduabelas orang peserta itu secara serentak memainkan gasingnya untuk mendapatkan beberapa orang yang paling lama berputar. Ketika hari sudah hampir gelap terdapatlah lima orang yang gasingnya berputar tak berhenti-henti yang sejak mulai dimainkan pada tengah hari tadi. Di antara lima orang itu termasuklah gasing si Kupang. Akan tetapi kempat orang peserta mengejek gasing si Kupang yang kecil.

“Pastilah kau kalah besok,” kata salah seorang di antara keempat saingannya, “Besok pertandingan bukan beradu lama berputar, tapi memangkah gasing lawan. Bagaimana gasingmu yang kecil itu dapat bertahan,” kata yang satu lagi mengejek.

Si Kupang diam saja mendengar kata-kata orang itu.

Keesokan harinya pertandingan tambah ramai. gasing si Kupang dipangkah habis-habisan oleh empat orang saingannya. Akan tetapi anehnya, gasing kecil itu semakin dipangkah semakin ligat berputar, semakin dipangkah semakin cepat. Tak berhenti-henti dari pagi sampai petang. Orang-orang bertambah banyak melihat gasing yang luar biasa itu. Mereka bersorak memberi semangat dengan menyebut-nyebut nama si Kupang. Gasingnya meliuk-liuk seperti hendak mati. Tapi segera berputar lebih ligat.

Sorak-sorai pun kian gemuruh melihat gasing yang seperti bernyawa itu. Maka sebelum hari gelap, penghulu gelanggang memutuskan, si Kupng sebagai pemenang.

Besoknya, ia pun dibawa oleh penghulu gelanggang menghadap raja, dan diangkat sebagai pakar gasing yaitu seorang yang ahli dalam urusan kayu-kayuan. Sejak itu senanglah hidup di Kupang bersama ibunya mak Senah.***

Baca Juga:  Asal Nama Negeri Lipat Kain-Kampar

Rujukan:
Cerita ini dari kumpulan Cerita Rakyat Indragiri Hulu (1996) yang diterbitkan Pemerintah Daerah Tk. II Indragiri Hulu. Tidak ada nama pengumpul atau penulis cerita.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *