Scroll ke bawah untuk melihat konten
Bahasa & Sastra

Gasing Betuah

×

Gasing Betuah

Sebarkan artikel ini
Gasing Bertuah. (Ilustrasi: budayamelayuriau.org)

Sorak sorai pun bergemuruhlah di seluruh kampung itu mengelukan kabar tentang pertandingan besar yang akan diadakan tiga pekan lagi. Pada hari itu juga beberapa orang ada yang langsung pergi ke hutan untuk mencari dan memilih kayu seminai yang handal untuk dibuat gasing. Siapa yang  berhasil menjadi pakar gasing sama artinya dengan menjadi seorang yang pakar tentang kayu-kayuan. Itu jabatan yang tinggi. Idaman orang di seluruh ceruk negeri dan rantau kerajaan Indragiri.

Si Kupang pun tak mau ketinggalan. Ia berlari secepat-cepatnya pulang ke rumah. Tak bertangga lagi ia menaiki rumah mengambil parang, dan tak bertangga pula ia turun, pergi ke tempat batu asahan dan mengasah parangnya.

Advertisement
Scroll ke bawah untuk melihat konten

“Mak, mak, tolong siapkan bekal hamba,” kata si Lancang.

Ibunya terkejut melihat anaknya mengasah parang sampai berkilat-kilat menyilaukan mata.

“Mau ke mana engkau ini Kupang?” tanya emaknya dengan bimbang.

“Tolong sajalah siapkan bekal!” jawab si Kupang sekenanya. “Dan jangan lupa siapkan damar. Barangkali malam baru saya pulang.”

“Mau ke mana engkau?” tanya emaknya lagi.

Dari luar terdengar suara seseorang yang kebetulan berjalan dekat pondok buruk itu. “Dia itu mau pergi ke hutan, mak Senah. Mencari kayu yang baik. Ada lomba gasing di Kota Raja tiga pekan lagi.”

Baca Juga:  Asal Mula Pulau Kapal-Meranti

“Dengarkan kata ibumu ini, Kupang!” kata emaknya dengan tegas, “Hari ini hari Rabu penutup bulan Safar. Sudah aku siapkan air tolak-bala untuk kau mandikan petang ini, biar lepas kita dari segala bala-bencana.”

Si Kupang diam saja. Ia terus saja mengasah parang.

“Subuh besok bolehlah engkau pergi ke hutan mencari kayu untuk dibuat gasing. Sabarlah sedikit, itu akan membawa kebaikan. Dengarkanlah kata ibumu ini, Kupang! Aku ini ibumu. Kata ibu, kata bertuah kata orang tua-tua.”

Lembut juga hati si Kupng mendengarkan kata-kata ibunya. Petang itu ia pun pergi ke perigi di bawah bukit untuk mandi air tolak-bala yang sudah disediakan emaknya.

Malam itu si Kupang tertidur dengan sangat nyenyaknya. Lewat tengah malam ia pun bermimpi, mendiang ayahnya datang ke pintu depan, memberi salam, naik ke rumah, dan mendekati tempat si Kupang tidur di atas tikar pandan, mencuit bahunya dan berkata:

“Kupang, bangunlah! Tiga pekan lagi engkau akan mengadu nasib di Kota Raja. Karena itu mari kubantu engkau. Ketika aku masih hidup dulu selalu aku pergi ke hutan. itulah sebabnya aku tahu dimana tempat kayu yang baik, yang akan mendatangkan tuah kepadamu. Pergilah engkau ke arah matahari terbit, sampai berjumpa dengan sebatang pohon yang merunduk menenteng arah angin. Buatlah gasing yang kecil saja dengan kayu itu.” 

Baca Juga:  Cerita Rakyat Siak Sri Inderapura

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *