Benar seperti yang disangka oleh mak Senah. Hari sudah saburlimur dan si Kupang belum lagi pulang. Dengan gelisah mak Senah menunggu anaknya pulang. Hari sudah mulai gelap si Kupang belum juga pulang. Mak Senah tambah gelisah. Hari sudah tengah malam dan si Kupang masih juga belum pulang. Menjelang subuh baru didengarnya langkah kaki orang di tanah.
“Kupang! “serunya, “Engkaukah?”
“Ya, mak, “jawab si Kupang.
Mak Senah merejuk ke arah pintu pondoknya dan membukanya, benarlah rupanya. Si Kupang pulang dengan letih. Tangan menjinjing sepotong kayu, coklat tua warnanya, berkilat-kilat dalam cahaya pelita damar.
Keesokan harinya si Kupang bangun pagi-pagi benar. Ia pergi mengasah parang tajam-tajam, lalu mulai bekerja menarah kayu yang diambilnya dari hutan kemarin. Dari pagi sampai petang, dengan keseluruhan keterampilannya yang ada dalam dirinya ia membuat sebuah gasing yang kecil saja, tapi sangat bagus, sangat gesit dan lincah.
Tiga pekan kemudian, si Kupang pun siap hendak berangkat ke Kota Raja. Sebelum mau berangkat mak Senah membacakan doa di depan anaknya yang tunduk dengan hormat.
“Jangan engkau lupa tujuanmu datang ke Kota Raja,”
Si Kupang memasuki Kota Raja. Kelihatan benar si Kupang agak canggung. Maklumlah ia memang belum pernah menjejakkan kaki di situ. Orang-orang yang melihatnya banyak yang mengejeknya. “Macam rusa masuk kampung!” atau ejekan yang lain. Namun, semua itu tak didengarkan si Kupang.
Ia segera mendatangi penghulu gelanggang, dan diberi seutas benang tiga warna berpilin sebagai tanda resmi boleh ikut dalam gelanggang permainan gasing yang akan bermula besok, dan boleh tidur di sebuah balai yang disediakan.








