Setelah itu sosok mendiang ayahnya itupun raib. Dan si Kupang pun terbangun. Dipikirkannya apa yang baru terjadi. Tak lama kemudian ia pun tidur nyenyak.
Pada waktu yang sama mak Senah yang tertidur dengan gelisah pun bermimpi: mendiang ayah si Kupang berdiri di pintu depan, memberi salam, naik ke rumah dan mendekati tempat emak Senah tidur di atas tikar pandan, mencuit bahunya dan berkata, Katanya, “Senah bangunlah! anak kita si Kupang, tiga pekan lagi akan mengadu nasibnya di kota Raja. Karena itu mari kita bantu dia. Ketika aku masih hidup dulu selalu aku pergi ke hutan. Itulah sebabnya aku tahu di mana tempat kayu yang baik, yang akan mendatangkan tuah kepada anak kita. Katakanlah kepadanya agar pergi mengikut arah matahari terbit, sampai berjumpa dengan sebatang pohon yang merunduk menentang angin. Suruh dia membuat gasing yang kecil saja dari kayu itu”. Setelah itu sosok mendiang ayah si Kupang pun raib. Dan mak Senah lalu terbangun. Dia teringat hendak menyiapkan bekal untuk anaknya.
Dengan tergesa-gesa dia sibuklah menanak nasi untuk dibuat bekal si Kupang mencari kayu di dalam hutan. Nasi panas dibungkus dalam upih pinang dengan lauk ikan salai dan sambal lada hijau. Disauknya air perigi, setabung bambu dan disumbatnya baik-baik dengan sabut kelapa. Lalu disiapkannya pula damar, kalau-kalau ia kemalaman pulangnya nanti. Setelah siap semuanya diapun pergi membangunkan anaknya.
“Kupang!Kupang! “Kata mak Senah, “bangunlah! hari sudah dekat subuh. Kata engkau mau pergi ke hutan”.
Sikupang tersentak dan terus bangun, “Ya, mak… Ya, mak,” sahutnya.
Si Kupang pun bergegas pergi dekat perigi yang jaraknya cuma beberapa langkah dari pintu belakang. Ia mencuci mukanya bersih-bersih. Kemudian ia naik kembali ke pondok, dan mak Senah menymbut anaknya dengan secangkir kopi yang panas.
Ketika si Kupang sedang menghirup kopinya itulah mak Senah menceritakan mimpinya. Dengan heran si Kupang mengatakan kepada ibunya tentang mimpi yang sama.
“Mudah-mudahan berhasil pekerjaanmu, anakku, “Kata mak Senah berdoa. “Sengaja aku lebihkan bekalmu. Jangan-jangan panjang perjalanan dalam hutan itu.”
Si Kupang pun pergilah seorang diri. Dalam gelap menjelang subuh itu kakinya sudah hafal pada jalan ke hutan. Ketika pagi datang ia sudah sampai ke tengah hutan lebat. Diteruskannya perjalanan mendaki bukit, menuruni lembah, ke arah matahari terbit. Sampai hari menjelang petang barulah dilihatnya sebatang pohon yang daun-daunnya merunduk menantang arah angin.
“Inilah pohon yang dikatakan ayahku dalam mimpi malam tadi,” pikir hati si Kupang. Lalu ia pun menebang pohon itu, mengambil terasnya. ketika ia berjalan hendak pulang, hari sudah mulai gelap.








