Dengan alasan yang cukup kuat Datuk Tuanku Mudo bertahan untuk tidak menjualnya. Dengan demikian pulanglah orang utusan itu dengan tangan hampa. Hal ini disampaikanlah kepada Kepala Negeri Serombo.
Kepala Negeri Serombo mendengar laporan utusannya, merasa kecewa dan sakit.
“Sudah beberapa kali saya menginginkan periuk itu tapi belum juga didapat,” gumannya.
“Tapi aku tidak boleh berputus asa,” pikirnya lagi.
Tiga hari kemudian Kepala Negeri Serombo mengumpulkan orang cerdik pandai untuk melakukan perundingan bagaimana caranya mendapatkan periuk wasiat Datuk Tuanku Mudo. Dari perundingan itu didapatkan kata sepakat, bahwa mereka akan menukar periuk wasiat itu dengan periuk mereka yang bagus dan yang lebih besar.
Keesokkan harinya dikirimlah utusan ke dusun tempat tinggal Datuk Tuanku Mudo untuk melaksanakan penukaran tersebut.
“Telah berkali-kali kami datang kepada Datuk, maksud dan tujuan kami adalah ingin memiliki periuk yang Datuk punya. Hendak kami beli Datuk tak hendak menjualnya. Hendak kami pinjam Datuk juga tau mau meminjamkan. Sekarang kami minta agar Datuk mau bertukar dengan periuk kami yang bagus dan besar dari pada yang Datuk punya,” jelas utusan panjang lebar
“Bagaimana kalau kita bertukar saja? Biar Kami tidak bersusah-susah lagi ke sini,” pinta utusan yang lain.
Datuk Tuanku Mudo tidak menjawab. Ia hanya menggeleng-gelengkan kepalanya, tanda tidak setuju.
Lalu salah seorang dari utusan lalu berkata.
“Datuk seorang yang mujarab doanya, ambillah periuk ini dan doakanlah supaya bisa berlaku seperti periuk yang Datuk punya, bukankah periuk ini jauh lebih besar dari periuk Datuk,”
“Maaf tuan-tuan, sebenarnya periuk yang kami miliki tidak serupa dengan periuk lainnya. Periuk kami adalah barang wasiat, anugrah Illahi kepada kami, didapat karena niat suci, karena keimanan yang teguh serta ketaatan menunaikan amal ibadat, barangkali sebagai imbalan dari Allah kepada kami. Jadi tidaklah dapat Kami berikan, dijual ataupun ditukar dengan yang lain,” jawab Datuk Tuanku Mudo dengan tegas.
Mendengar jawaban Datuk Tuanku Mudo yang tak dapat ditawar-tawar lagi, maka pulanglah dengan melaporkan hal itu kepada pemimpin mereka. Mendapat laporan yang demikian, semakin panas hati Kepala Negeri Serombo, namun mereka tidak hendak emosi, malah mencari akal dan taktik lain.
Beberapa hari kemudian ia memanggil orang yang biasa diutus ke dusun tempat Datuk Tuanku Mudo tinggal. Kali ini dengan siasat yang lain dari yang lain.
Kepala Negeri Serombo mencoba menggunakan cara lain yang lebih lembut tapi menyakitkan, ia memerintahkan seorang utusan yang tampan dan gagah untuk melamar putri Datuk Tuanku Mudo.
“Dengan menjadi menantu Datuk Tuanku Mudo, kehendak kita untuk mendapatkan periuk itu akan lebih,” pesan Kepala Negeri Serombo sebelum utusan berangkat melamar putri Datuk Tuanku Mudo.








