Akhirnya berangkatlah utusan untuk melaksanakan perintah Kepala Negeri. Sesampai di dusun tempat Datuk Tuanku Mudo tinggal, dijelaskanlah maksud dan tujuan kedatangan mereka, yakni hendak melamar putri Datuk Tuanku Mudo.
Setelah mendengarkan penuturan utusan pembesar Serombo, anak gadis Datuk Tuanku Mudo mengucapkan banyak terima kasih karena telah datang meminangnya. Terbersit niat di hatinya untuk menerima pinangan itu, maklum yang datang adalah bujang gagah dan tampat, orang kaya, berpangkat serta keturunan bangsawan.
Namun tiba-tiba putri Datuk Tuanku Mudo menolak pinangan itu mentah-mentah.
“Maaf! Saya tidak bisa menerima pinangan ini,” jawan putri Datuk Tuanku Mudo tegas.
“Kenapa! Bukankah segala adat telah kami penuhi, segala hantaran telah Kami berikan,” tanya salah seorang utusan terkejut.
“Kita berbeda kepercayaan, kami beriman kepada Allah Swt dan Rasulnya Muhammad Saw. Sedangkan tuan-tuan masih menyembah batang-batang kayu besar dan patung-parung yangk buat sendiri. kita sangat berbeda bak air dengan minyak, bak siang dengan malam. Bahkan lamaran Tuan-tuan seperti jauh panggang dari api,” jelas putri Datuk Tuanku Mudo tanpa ragu.
“Tuan-tuan sudah mendengar jawaban putri saya, sampaikanlah hal ini kepada Kepala Negeri Serombo. Bukan hamba dan putri hamba yang menolak tapi syariat yang mewajibkan seperti itu,” sambung Datuk Tuanku Mudo yakin.
“Jadi pinangan kami Datuk tolak?”
“Memang begitu hukum dalam ajaran agama kami, perempuan Islam tidak boleh menikah dengan orang lain yang tidak seiman,”
Mendengar jawaban Datuk yang demikian, salah seorang utusan itu naik pitam, lalu mencabut keris dan menikam dada dan perut Datuk Tuanku Mudo berkali-kali.
Datuk Tuanku Mudo bersimbah darah tergelatak di lantai rumah. Sebelum ia menghembuskan nafat terakhir, ia berdoa kepada Allah Swt.
“Ya Allah! Timpakan malapetaka kepada mereka, jadikanlah mereka batu untuk orang-orang zalim itu, begitu juga dengan harta benda mereka. Amin.”
Selesai berdoa, Datuk Tuanku Mudo menghebuskan nafas terakhirnya, alampun ikut bermuram durga, langit jadi gelap, angin bertiup dengan kencang, kilat dan petir sambung menyambung.
Tak lama berselang, pulanglah para utusan ke istana, namun di tengah perjalanan tiba-tiba mereka mati ditimpa kayu yang tumbang, dan ada pula yang mati disambar petir. Begitu pula dengan pembesar dan hulubalang negeri Serombo, semuanya mati. Sedangkan Kepala Negeri beserta harta benda dan perlengkapannya serta hewan ternaknya tiba-tiba menjadi batu. Termasuk istana dan rumah-rumah pembesar dan hulubalang.
Kini, bila berkunjung ke Serambo, akan dijumpai manusia, tumbuh-tumbuhan, binatang dan benda-benda lainnya seperti batu yang tergelatak di sudut-sudut negeri. Penduduk setempat percaya, batu-batu itu adalah jelmaan manusia-manusia zamin yang dikutuk Datuk Tuanku Mudo***
Cerita dikutip dari buku:
Derichard H. Putra, dkk. 2007. Cerita Rakyat Daerah Riau. Pekanbaru: Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Provinsi Riau








