“Kenapa hal ini bisa terjadi?” Tanya kepala negeri heran.
“Allah tentu tidak menginginkan hambanya memakan daging yang tidak diizinkan-Nya.” Jawab Datuk Tuanku Mudo.
Akan hal kepala negeri dan pembesar istana melihat kejadian itu, mereka sangat malu. Namun mereka pura-pura tidak menghiraukan hal itu, lalu salah seorang hulubalang menanyai Datuk Tuanku Mudo.
“Mengapa Datuk tidak makan?”
“Kebetulan perut saya mual saja, tak ada selera makan,” jawab Datuk Tuanku Mudo membuat alasan.
“Tuan menghidangkan makanan yang tidak layak dimakan, sehingga Allah memperlihatkan kekuasaannya,” lanjut Datuk Tuanku Mudo menjelaskan.
“Ya, tapi bukankah daging yang Datuk anggap haram tadi telah terbang, dan apa salahnya yang tertinggal kita makan?” Tanya hulubalang lagi.
“Tidak! Apa yang dinyatakan hukumnya haram adalah haram, tidak bisa ditawar-tawar sedikit pun, begitu juga dengan makanan ini, apabila yang halal ternoda oleh sedikit saja oleh yang haram, maka semuanya tetap akan jadi haram. Bukankan susu sebelangan akan rusak oleh nila setitik,” jelas Datuk Tuanku Mudo murkah.
Selesai berkata begitu, Datuk Tuanku Mudo hendak pamit pulang, tapi pihak istana melarangnya.
“Datuk Tuanku Mudo, kami ingin berunding mencari mufakat dengan Datuk,” kata Ketua Pemimpin Negeri membuka pembicaraan.
“Hal apalagi yang harus dirundingkan?” Tanya Datuk Tuanku Mudo agak kesal.
“Kami menginginakn Datuk Tuanku Mudo menjual atau meminjamkan Kami periuk Datuk,” jawab Ketua Pemimpin Negeri.
“Tuan-tuan adalah orang yang kaya raya, lembih makmur dari kami. Sementara penduduk dusun kami masih banyak yang miskin, kalau periuk itu diserahkan kepada Tuan tentu penduduk kami akan banyak mati kelaparan,” elak Datuk Tuanku Mudo.
“Karana itu, jika tuan-tuan tidak membantu kami, maka relakanlah kami memakai periuk itu,” pinta Datuk Tuanku Mudo.
Mendengr kata yang beriba-iba itu, sejuk jugalah hati pembesar-pembesar negeri Serombo. Tak lama kemuduian Datuk Tuanku Mudo mohon diri pulang ke dusunnya.
Meskipun pada akhirnya pemuka masyarakat Serombo melepaskannya dengan muka yang jernih. Namun apa yang mereka hajatkan belum terkabul, masih terasa ada sesuatu yang terganjal di hati meraka.
Beberapa hari kemudian, tibalah pula beberapa utusan dari Kepala Negeri Serombo untuk menemui Datuk Tuanku Mudo dengan maksud hendak membeli periuk wasiat tersebut, berapapun harganya akan mereka bayar.
Akan tetapi sungguh berat hati Datuk Tuanku Mudo berpisah dengan periuknya. Selain itu, anak gadis sang Datuk Tuanku Mudo melarang pula ayahnya menjual periuk itu, ia teringat bagaimana nasib orang-orang miskin di dusunnya jika periuk itu tidak bersama mereka lagi.








