TERSEBUTLAH sebuah kampung bernama Air Molek dalam kawasan Kerajaan Indragiri, rumah-rumah di kampung itu dibuat tinggi-tinggi tiangnya untuk menghindar dari binatang buas dan banjir yang setahun sekali selalu datang mengganggu ketentraman penduduk.
Di ujung kampung itu ada sebuah pondok buruk yang sudah hampir roboh. Atapnya sudah bocor, dindingnya yang dibuat dari pelepah rumbia sudah berlubang-lubang, dan lantainya dibuat dari batang pinang pun sudah harus diganti pula.
Di pondok itu tinggallah mak Senah dengan anaknya bernama si Kupang yang sudah bujang. Ayah si Kupang sudah lama meninggal dunia.
Sikupang di lahirkan dengan pusar rambut ganda di kepala. Kata orang siapa yang dilahirkan dengan pusar rambut ganda di kepala baik sekali beternak. Karena itulah banyak orang kampung minta peliharakan kambing mereka kepada si Kupang dengan hasil dibagi dua, sebagian untuk si pemilik dan sebahagian lagi untuk si pemelihara.
Pada suatu hari ketika si Kupang sedang mencari daun nangka untuk makanan kambing-kambing peliharaannya, tiba-tiba terdengar olehnya bunyi canang dipukul dobalang tenteng dengan nyaring.
‘Ada apa pula orang memalu canang,’ pikir hati si Kupang smbil meninggalkan pekerjaaannya. Ingin rasa hatinya mengetahui kejadian yang tidak biasa itu. Ia terus berlari ke arah bunyi canang itu datang. Di halaman rumah Penghulu Muda dilihatnya beberapa orang yang berpakaian bagus berdiri bersama Engku Penghulu menantikan penduduk kampung berkumĀpul. Orang-orang yang berpakaian bagus itu datang dari pusat kerajaan di Japura.
“Tentulah ada perkara yang penting akan diberitahukan kepada pendudukl kampung sampai mereka datang ke sini,” pikir hati si Kupang lagi.
Setelah para penduduk berkumpul semuanya, Dobalang tenteng yang merupakan pembesar kerajaan itupun berkata:
“Hooii encik-encik tuan-tuan, puan-puan, yang kecil tak disebut nama, yang besar tak dihimbau gelar, yang bertuah dengan maruahnya, yang alim dengan amanahnya, yang tua dengan petuahnya, yang muda dengan takahnya, ninik mamak dengan pusakanya, yang bijak dengan arifnya, yang cerdik dengan pandainya, yang datang dari laut dari darat, yang dari hulu dari hilir. Kami ini datang dari Kota Raja membawa heba1 mengembirakan. Tiga pekan dari hari ini di pusat kerajaan akan diadakan perlombaan bermain gasing yang diadakan oleh kerajaan. Siapa yang bernasib baik dapat menjadi juara bergasing akan diangkat sebagai pakar gasing di Kota Raja.”








