“Cepat tahan! sebentar lagi akan tumbang,” pekik penduduk.
“Ini kayunya, lekas…! Tahan…! Jangan sampai tumbang,” seru salah seorang penduduk sambil memberikan kayu besar agar batang Komang tidak tumbang.
Hujan semakin deras dan diikuti dengan angin yang cukup kencang membuat penduduk hanya bisa berdoa agar pohon Komang itu tidak tumbang ke dalam sungai. Penduduk bahu membahu menahan agar pohon besar itu tidak tumbang. Akhirnya hujan pun reda dan diikuti angin yang mulai berhembus dengan tenang. Masyarakat dusun masih ramai di tepian batang komang itu. Agar jangan sampai tumbang ke dalam sungai, maka diberilah kayu penyangga. Setelah diberi penyangga penduduk pada malam harinya bersama-sama tidur di dekat pohon Komang itu takut kalau pohon Komang itu tumbang. Penduduk dusun itu tetap mandi di dekat batang komang itu. Setelah melihat cuaca mulai baik barulah penduduk dusun pulang ke rumahnya masing-masing. Penduduk dusun menyuruh anak-anak mereka melihat batang Komang tersebut, khawatir pohon itu tumbang.
Pernah sekali penduduk dusun mengangkat ketua dengan wilayah tepian sungai dan batang komang. Penduduk yang yang diangkat sebagai ketua itu diberi gelar Panglima Topian Komang. Panglima ini bertugas mengawasi Batang Komang. Selain itu juga diikuti oleh beberapa pemuda dusun tersebut.
Pernah pula suatu hari, dua orang pemuda dusun sebelah mencoba menebang batang Komang ini pada tengah malam. Namun, dapat digagalkan oleh panglima Topian Komang dan dua pemuda itu mendapat hukuman dengan hukuman sebat dan cambuk 25 kali. Hal ini dilakukan di depan penduduk dusun yang geram melihat perbuatan mereka yang ingin menumbangkan batang Komang.
Namun, mereka berharap batang Komang itu jangan sampai tumbang. Sebab kalau tumbang mereka kehilangan tempat istirahat, mandi, dan mencuci pakaian sehari-hari. Mereka berharap anak cucu berikutnya bisa menjaga batang Komang itu sampai kemudian hari.
Sekarang batang Komang ini telah tumbang seiring longsornya tepian sungai, karena tanah yang menyangganya telah rubuh ke bawah dan menyebabkan tumbang pohon Komang. Juga di tepian ini sedang dibangun jembatan untuk penduduk di dusun tersebut untuk memperlancarkan hubungan jual beli antara Topian Komang itu sendiri dengan pulau Kako sebuah dusun di bagian hulu dusun Sikakak. Rencananya Topian Komang ini sebagai tempat keramaian penduduk setempat karena di Topian komang ini telah banyak dibangun rumah-rumah penduduk.
Topian Komang sekarang sebagai tempat keramaian penduduk, mereka menikmati indahnya sungai yang mengalir di bawah batang Komang telah tiada yang tinggal hanya legenda. Selain itu, Topian Komang dijadikan tujuan migrasi penduduk, karena mengatasi makin padatnya penduduk dusun Sikakak. Kadangkala walaupun Topian Komang makin ramai sesekali pernah juga mendengar suara wanita menangis di tengah malam. Suara itu kurang jelas dan hanya dibawa angin, namun masyarakat mempercayai akan sejarah Topian Komang tersebut. ***
Dikutif dari:
Derichard H. Putra, dkk. 2007. Cerita Rakyat Riau. Pekanbaru: Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Provinsi Riau.








