Dua hari kemudian setelah Datuk Hitam memberikan nasihat itu, salah seorang penduduk dusun itu bermimpi melihat perempuan yang berpakaian putih di pohon komang itu. Perempuan itu memberikan pesan harus menjaga sungai dan pohon yang ada di pinggirnya. Mimpi ini sama yang dialami Datuk Hitam sebelumnya, selanjutnya mimpi yang sama juga dialami pendudukan lainnya.
Setelah itu penduduk dusun bersama-sama membersihkan tepian sungai dan batang pohon yang besar tempat penduduk dusun mandi dan istirahat. Setelah itu barulah masyarakat beristirahat di batang pohon itu sambil memancing dan menikmati indahnya pohon yang besar dan sejuk. Penduduk dusun itu sering menyebut pohon tersebut dengan pohon Komang. Mereka mempercayai bahwa di dalam pohon itu hidup seorang wanita tetapi kebanyakan mereka tidak mengetahui siapa wanita itu.
Setelah Datuk Hitam meninggal dunia, penduduk dusun itu masih menjaga pohon komang. Pernah suatu malam seorang penduduk dusun bermimpi, batang komang kemudian hari akan roboh dan hanyut ke sungai. Mimpi ini diberitahukan kepada masyarakat yang lain agar menjaga batang komang itu. Apabila hancur tiada lagi tempat mereka mandi dan mencuci pakaian.
“Wahai kawan semua hendaklah kita merawat batang pohon komang ini, karena ia tempat kita mandi di sungai ini,” nasihat penduduk sesamanya.
“Ya…! Kita mesti ingat pesan orang tua kita dulu yang memberikan nasihatnya kepada kita supaya menjaga pohon-pohon dekat sungai ini,” sahut masyarakat lainnya, sepakat.
Masyarakat saban hari makin ramai mencuci dan mandi di sungai di sekitar pohon ini. Kadangkala ada pula masyarakat sambil menyanyikan lagu-lagu di dusun itu. Selama penduduk dusun melakukan pembersihan di Tepian Komang tersebut tiada lagi suara wanita menangis di dekat pohon itu. Pernah pada malam Jumat seorang pemuda kampung baru pulang menangkap ikan di tepi sungai dekat batang komang, melihat sesosok perempuan yang sedang mencuci pakaian di tengah kegelapan malam. Ketika ingin mendekati wanita itu ternyata perempuan itu menghilang entah ke mana. Melihat hal itu pemuda tersebut lari sekencang-kencangnya dan demam esok harinya. Ketika ditanya apa yang terjadi, pemuda itu hanya menjawab melihat perempuan berpakaian serba putih. Sebagian penduduk dusun ada yang ketakutan setelah mendengar cerita pemuda yang melihat langsung perempuan itu.
“Mungkin itu penunggu pohon yang besar yang ada di tepi sungai itu,” jelas warga.
“Kemungkinan semacam itu juga,” jawab warga yang lain.
“Apakah kau selama ini tak pernah melihat wanita itu secara langsung?” tanya salah seorang dari mereka.
“Tak pernah! Cuma dalam mimpi aku pernah melihat wanita yang berpakaian serba putih,” jawabnya.
Batang Komang itu masih dijaga masyarakat dusun itu dan juga ada pantang larangnya mengenai Batang komang tersebut. Seorang wanita di dusun itu tidak boleh mandi sendiri tanpa ditemani oleh orang tuanya atau sesama perempuan dan tidak boleh buang air dari atas batang Komang tersebut dan juga tidak boleh berkata kotor dan mengumpat apabila sedang mandi di sungai di sekitar pohon Komang itu.
Konon, batang Komang ini juga dipagari oleh masyarakat agar tak roboh ke dalam sungai sebagaimana mimpi salah seorang masyarakat sebelumnya. Masyarakat dusun itu mempercayai mimpi itu karena melihat tanah tepian sungai itu rawan longsor. Apatah lagi batang sebesar pohon Komang mestilah dijaga dengan baik. Demikianlah kepercayaan penduduk dusun itu.
Suatu hari angin ribut dan derasnya hujan diikuti halilintar yang menggelegar membuat batang pohon Komang goyang masyarakat berduyun-duyun menuju tempat itu. Masyarakat memberikan kayu sandaran agar pohon Komang tidak tumbang ke dalam sungai.








