Scroll ke bawah untuk melihat konten
Bahasa & Sastra

Topian Komang-Kuantan Singingi

×

Topian Komang-Kuantan Singingi

Sebarkan artikel ini
Topian Komang. (Ilustrasi: budayamelayuriau.org)

“Pergi dari sini!” terdengar suara perintah dari perempuan itu, kemudian lenyap dibawa angin.

Datuk Hitam terus memperhatikan dari mana suara itu berasal. Dilihatnya tak ada satu pun orang yang ada di sekitarnya. Suara itu hanya terdengar sekali itu saja menanyakan perihal Datuk Hitam. Selepas itu suara itu hilang dan tenggelam dibawa keheningan. Setelah cukup lama mengamati, tidak dijumpai juga asal suara itu, Datuk Hitam pun pergi dengan sejuta tanya, siapa gerangan perempuan siluman itu.

Advertisement
Scroll ke bawah untuk melihat konten

Pada suatu malam Datuk Hitam bermimpi. Dalam mimpinya  menceritakan bahwasanya di tepi pohon itu dahulunya hidup seorang wanita muda yang ramah dan santun. Setiap hari ia mencuci di sungai itu, tetapi wanita itu dibunuh oleh masyarakat dusun kala itu. Wanita itu memberikan pesan kepada Datuk Hitam bahwa sungai tersebut menjadi tempat mandi penduduk dusun dan jangan sesekali mengotori sungai itu. Setelah terbangun dari tidurnya barulah Datuk Hitam mengerti siapa sebenanya perempuan mahluk halus itu.

Seiring berjalannya waktu, hari berganti minggu, bulan berganti tahun, ramai penduduk dusun mengunakan sungai tersebut sebagi tempat mandi dan mencuci pakaian. Datuk Hitam sengaja menyembunyikan mimpinya agar tak menimbulkan hal-hal yang tak diinginkan. Di bawah pohon komang itu juga semakin ramai, tempat berteduh dari teriknya matahari penduduk dusun itu yang berlalu lalang, juga tempat berteduh orang-orang yang memancing ikan di sungai tersebut.

Baca Juga:  Mencabut Misai Harimau - Cerita Yong Dollah

Tatkala penduduk mandi dan mencuci pakaian di tepian di bawah pohon tersebut, datanglah Datuk Hitam dengan tongkatnya berjalan kaki. Ia langsung mendekati penduduk dusun yang berada di pohon itu.

“Wahai saudaraku, hendaklah kalian menjaga kebersihan sungai ini karena ia sebagian dari hidup kita. Apabila tepi sungai dan di bawah pohon ini kotor maka sungai akan turut kotor,” pesan Datuk Hitam.

“Kami akan senantiasa menjaganya Tuk dan akan selalu menjaganya apabila ada orang ingin  mengotori apalagi menebang pohon ini,” jawab salah seorang penduduk.

“Baiklah semoga kalian tetap dengan ucapan kalian,” nasihat Datuk Hitam.

“Terima kasih atas nasihat Datuk,”sambung salah seorang penduduk.

“Oh ya! apakah kalian sering membuang sampah dalam sungai ni?” tanya Datuk lagi.

“Tidak pernah Tuk,” jawab salah seorang penduduk.

“Baguslah kalau begitu. Kita sama-sama menjaga kebersihan sungai ini. Agar kita terhindar dari segala penyakit. Sebab apabila air sungai sudah tercemar maka penyakit akan mudah menyerang. Juga jangan sesekali menebang pohon atau sejenisnya di tepi sungai ini, sebab akan menimbulkan kekotoran dan sungai akan dangkal dan arusnya akan tersumbat,” nasihat Datuk Hitam.

“Baiklah Tuk, kami akan ingat pesan Datuk,” salah seorang penduduk menjawab lagi.

Setelah Datuk Hitam memberi nasihat kepada penduduk desa, ia pun beranjak dari tempat itu.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *