Scroll ke bawah untuk melihat konten
Bahasa & Sastra

Si Lancang

×

Si Lancang

Sebarkan artikel ini
Si Lancang. (Ilustrasi: budayamelayuriau.org)

“Entah di mana engkau sekarang, Lancang?” pikir ibu si Lancang menahan sedih seperti retak rasa hatinya, seperti hendak terbelah rasa dadanya.

***

Advertisement
Scroll ke bawah untuk melihat konten

Akan halnya nasib si Lancang di perantauan, anak dagang ini memperoleh nasib baik. Ia mendapatkan majikan yang menjadi saudagar kaya. Ia sadar akan kesusahannya di kampungnya, maka ia tumbuh dan besar menjadi anak yang baik, cepat kaki ringan tangan, rajin menolong membantu orang, kuat bekerja ia disukai oleh majikannya, seorang saudagar besar yang banyak hartanya. Karena budi bahasanya ia bahkan dibuat menantu, dikawinkan dengan anaknya perempuan majikannya. Saudagar kaya itu pun meninggal dunia, dan semua harta yang ditinggalkannya dipercayakannya kepada si Lancanglah. Kaya rayalah si Lancang di negeri itu. Ia pun dapat mengeloa usaha mertuanya, makin lama kekayaannya makin bertambah. Gedung dan tokonya banyak, kapal-kapalnya pun tak terhitung lagi berlayar dan pulang memperoleh keuntungan yang berlipat-lipat. Si Lancang pun terkenal kekayaannya.

Si Lancang yang sudah kaya raya itu tak cukup beristri hanya satu. Ia lalu menikah lagi dengan seorang gadis. Tak lama sesudah itu ia mencari istri yang lain, demikian pula selanjutnya, sehingga istrinya semua sudah empat orang.

Kata orang tua-tua,setinggi-tinggi bangau terbang, hinggap di kubang jua. Demikianlah halnya dengan si Lancang. Pada suatu hari ia berkata kepada keempat istrinya bahwa ia ingin hendak pulang ke kampung halamannya, untuk berjumpa dengan ibunya.

Baca Juga:  Legenda Pangeran Pekaitan

“Rindu benar hatiku ingin bertemu dengan ibuku,” katanya.

Keempat orang istrinya gembira mendengar kata-kata si Lancang. Mereka ingin mengunjungi kampung halaman suaminya, ingin bertemu dengan mertuanya. Lalu berangkatlah si Lancang dari rantau yang jauh dengan tujuh buah kapal. Setiap kapal bermuatan barang-barang yang berlainan. Semua muatan itu hendak dibawa sebagai oleh-oleh untuk ibunya.

Setelah menempuh lautan luas, sekian tanjung, sekian teluk dan sekian pulau, sampailah rombongan si Lancang ke halaman kampungnya. Ke tujuh buah kapal itupun merapatlah ke tepi tebing. Bukan main ramainya orang kampung datang melihat. Belum pernah selama ini ada tujuh buah kapal sekaligus datang merapat ke tempat itu.

Di antara orang-orang itu ada juga orang yang mengenal si Lancang. Lalu ia pun pergi berlari menuju ke pondok tempat ibu si Lancang tinggal.

“Ibu! Ibu! ” teriak orang itu dari halaman.

“Ada apa?” tanya si ibu lancang.

“Si Lancang pulang, ia sudah pulang,” katanya.” Ia datang dengan tujuh buah kapal. Istrinya empat orang. Sudah kaya raya dia nampaknya.”

Bukan main gembiranya hati ibu si Lancang mendengar kabar itu. Ia pun segera bersiap hendak pergi ke tebing tempat kapal-kapal tertambat. Dengan tergesa-gesa ia sempat juga membawa lempeng dedak kesukaan anaknya, si Lancang, di bungkus dalam daun pisang.

“Tentu anakku akan lahap memakan lempeng dedak ini,” kata ibu si Lancang.

Baca Juga:  Asal Mula Negeri Tiga Lorong

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *