Scroll ke bawah untuk melihat konten
Bahasa & Sastra

Si Lancang

×

Si Lancang

Sebarkan artikel ini
Si Lancang. (Ilustrasi: budayamelayuriau.org)

Setelah sampai di tebing dilihatnya seorang anank muda yang gagah berpakaian indah di dampingi oleh empat orang perempuan sedang berdiri di anjungan kapal. Si ibu segera mengenali anaknya. Dan ia pun berteriak.

“Lancang, si Lancang! Engkau kah itu nak?” tanya ibu Lancang.

Advertisement
Scroll ke bawah untuk melihat konten

Keempat istri si Lancang menoleh ke arah perempuan tua yang buruk itu. Mereka menertawakan ibu si Lancang sejadi-jadinya. Istri si Lancang yang termuda terkekeh-kekeh sampai berhamburan air matanya.

“Ini Lancang bukan? bila dikau sampai nak?” tanya ibu si Lancang.

“Lancang! ini ibumu!” Seru ibu si Lancang.

“Lihatlah, perempuan tua gila mengaku ibu suamiku”, katanya sambil ketawa.

“Lancang, tak kenalkah engkau padaku?” katanya ibu lagi.

“Tentu saja kenal,” salah seorang istri si Lancang berkata sambil mengejek.” Siapa pula yang tak kenal kepada perempuan gila!”

Istri-istri si Lancang yang lain terus mengetawakan perempuan tua itu, Si Lancang diam tak berkata-kata. Mukanya pucat, dan ibu si Lancang pun mengerti mengapa si Lancang tidak mau mengaku ibunya sendiri. Anaknya telah dipengaruhi oleh harta dan perempuan cantik. Ia telah melupakan ibunya.

“Lancang aku ini ibumu,” kata perempuan tua itu lagi.” Katakan terus terang, tak maukah engkau mengakui ibumu yang sebenarnya?”

Keempat istri si Lancang memandang kepada suaminya. Mereka menunggu jawaban dari bibir lelaki itu.

Baca Juga:  Menangkap Pelanduk-Cerita Yong Dollah

“Tidak!” kata si Lancang tergagap-gagap.” Kamu bukan ibuku.”

“Sekali lagi aku tanya padamu.” kata peremĀ­puan tua itu lagi.

“Tidak maukah engkau mengakui ibumu yang sebenarnya?”

“Kamu bukan ibuku!” kata si Lancang.

Keempat istrinya tertawa terderai-derai.

“Meskipun engkau tak mengakui aku ini ibumu, karena engkau malu mengakui di depan istrimu yang cantik-cantik ini, aku tetap saja ibumu, anakku.”

“Bukan, engkau bukan ibuku,” kata si Lancang lagi lebih keras.

“Sekali lagi,” kata orang tua itu sangat pelan karena air matanya sudah mulai berkucuran, “Tidak maukah engkau mengakui aku ini ibumu?

“Tidak,” kata si Lancang sekeras-kerasnya. “Engkau bukan ibuku.”

Orang tua itu pun terdiam beberapa saat. Sudah habislah usahaku mengingatkanmu, kata ibu si Lancang dalam hati.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *