Hal ini membuat si perempuan penasaran dengan gong itu. Ia kemudian menceritakan kejadian tersebut kepada tetangganya. Para tetangga pun merasa heran, lalu tersebarlah berita gong tersebut ke sekeliling Kerajaan Bukit Harang. Tidak hanya masyarakat awam yang mendengarkan berita tersebut, tetapi juga sampai pada raja, dan raja juga ikut merasa heran.
Dipanggillah si perempuan penemu gong ke istana. Seluruh masyarakat Kerajaan Bukit Harang juga dikumpulkan oleh sang raja. Semua sama-sama menyaksikan kehebatan gong. Ternyata benar apa yang terjadi. Seluruh hewan yang diberi makan dalam gong tidak mau makan. Akhirnya ditetapkanlah bahwa gong milik si perempuan dijadikan sebagai milik sang raja.
Siangpun berlalu, masyarakat semuanya kembali ke rumah masing-masing. Begitu juga dengan si perempuan yang mendapatkan gong tersebut. Setelah diberi hadiah oleh sang raja, maka perempuan itu juga pulang ke rumah.
Malampun datang menyelimuti perkampungan-perkampungan di Kerajaan Bukit Harang. Sunyi senyap menyertai malam yang gelap gulita. Hanya suara jangkrik dan beberapa hewan malam lainnya yang mengeluarkan suara. Tidak ada yang berbeda dengan malam-malam sebelumnya. Namun, ketika malam telah mulai larut dan gelappun telah mencekam, maka barulah terdengar suara aneh menyelimuti kesunyian Kerajaan Bukit Harang.
Pada malam itu, tidak hanya suara jengkrik dan hewan malam yang terdengar, tetapi gong tersebut juga berbunyi. Dengungan bunyi gong terdengar hingga pelosik negeri. Padahal gong kecil tersebut tidak dipukul oleh siapapun. Namun, raja yang berada paling dekat dengan gong tidak mendengarkan suara sedikitpun.
Bunyi dengungan gong terdengar hingga selama tiga hari berturut-turut. Sehingga sang raja pun merasa penasaran. Maka, hal ini ditanyakanlah kepada penasihat kerajaan.
Penasihat kerajaan mengatakan bahwa gong itu ingin diberi nama. Maka, dikumpulkanlah kembali seluruh masyarakat Bukit Harang untuk memberikan nama kepada gong. Berbagai usulan dan saran nama sudah diajukan. Setiap datuk suku juga ditanya tentang nama benda tersebut. Tetapi tidak ada satu usulan pun yang membuat hati sang raja merasa tertarik.
Pada saat itu datanglah seorang perantau dari seberang Bukit Harang yaitu dari semenanjung Malaya yang bersuku Melayu. Dia berkata kepada raja.
“Wahai sang raja, mudah sebenarnya mencari nama gong kecil ini. Kita lihat saja kesaktiannya bahwa suara yang dihasilkan oleh gong terdengar oleh seluruh orang yang ada di Bukit Harang. Jadi kita beri saja nama Sekelimang (Sekeliling) Harang.”
Mendengar hal itu raja menyetujuinya. Dalam pikiran raja bahwa nama tersebut cocok dengan kesaktian yang dimiliki oleh benda itu sendiri. Lambat laun karena adanya perubahan bahasa, maka nama Sekelimang Harang berubah menjadi Selembang Karang.








