Scroll ke bawah untuk melihat konten
Bahasa & Sastra

Cerita Jenaka

×

Cerita Jenaka

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi. Petuah Pak Garam Cerita Rakyat dari Sakai, Bengkalis. Foto: pxhere.com

Cerita Abu Nawas, mengemukakan watak yang berdasarkan satu tokoh yang hidup pada zaman Abbasiyah di Timur Tengah, yaitu Abu Nawas, seorang perdana menteri yang sangat bijak. Dalam cerita ini, Abu Nawas menjadi menteri dari Sultan Harun Amin al-Rashid dan menteri ini senantiasa diuji oleh rajanya. Segala masalah yang diberikan kepadanya untuk diselesaikan dapat diatasinya dengan cara yang menggelikan hati dan memperlihatkan ketangkasan pemikirannya. Salah satu cerita yang terkenal adalah bagaimana Abu Nawas melepaskan diri dari hukuman ketika ia diuji oleh sultan untuk mengenal pasti antara ayam jantan dan ayam betina. Semua pembesar diberi telur sebiji perorang dan disuruh masukkan ke dalam kolam bersama-sama Abu Nawas. Ketika Abu Nawas ditanya kenapa keluar dari kolam itu tanpa membawa telur, dia terus berkokok dan menyatakan bahwa para pembesar itu ialah ayam betina. Terdapat berbagai-bagai cerita yang dicipta di sekitar watak Abu Nawas ini.

Unsur utama dalam cerita jenaka adalah unsur lucu. Kelucuan ini ditimbulkan mengikut sesuatu peristiwa yang dilakukan oleh seorang yang bodoh tetapi bijak, seorang yang lurus tetapi nasib berada di pihaknya, seorang yang lurus tetapi dibantu oleh keadaan, seorang yang bijak dan tangkas pemikirannya hingga dia berhasil mempermainkan kembali orang yang hendak mengenakannya dan ada pula seekor binatang kecil seperti sang kancil atau pelanduk yang bijak mampu menipu orang lain untuk meleĀ­paskan dirinya dan sebagainya. Selain itu, unsur penting yang ditemui dalam cerita jenaka adalah unsur pengajaran atau teladan.

Advertisement
Scroll ke bawah untuk melihat konten

Jenaka dapat menjadi salah-satu sosok kebudayaan. Dalam kesusastraan banyak sekali sosok Jenaka yang kemudian dipandang sebagai ciri suatu kebudayaan. Ada Don Quijote, Till Eugenspiegel dan tokoh-tokoh Rabelais yang suara ketawanya terus terdengar berderai sampai jauh ke masa kini juga ke masa depan barangkali, merasuk ke semua kebudayaan di dunia.

Sederetan tokoh-tokoh jenaka memenuhi suatu masa dalam periodisasi sastra Melayu seperti Sang Kancil, Pak Belakang, Lebai Malang, dan lainnya. Kini dan kelak, apakah tokoh-tokoh ini masih diikuti oleh tokoh-tokoh lainnya atau tidak dengan bergeraknya waktu tentulah akan merupakan bahan pengamatan kesastraan yang menarik. Semangat yang mengisi ruang spiritual manusia senantiasa berubah sejalan dengan perjalanan waktu karena itu setiap perubahan hendaklah dihadapi dengan bijak.

Munculnya cerita pendek sebagai suatu genre sastra di Indonesia ketika Negeri ini masih bernama Hindia Belanda dari tangan M. Kasim tokoh-tokohnya terdiri dari orang-orang yang jenaka karena dimaksudkan sang pengarang untuk berjenaka agaknya. Bercerita dengan pendek yang dipelopori M. Kasim itu dilanjutkan oleh Soeman Hs dengan memanfaatkan kejenakaan yang tak terlalu jauh dari pendahulunya. Namun, di tangan Soeman cerita pendek sempat dibelainya dengan manja sehingga ia tercatat sebagai pelopor cerita pendek berukuran mini. Bahkan Soeman Hs harus pula dicatat sebagai pengarang pertama di Negeri ini yang menghasilkan sosok cerita pendek mini yang seluruhnya terdiri dari dialog saja.

Baca Juga:  Dundung, Nyanyian Pengantar Tidur Talang Mamak

Referensi tentang cerita jenaka antara lain Jumsari Jusuf, 1970. “Cerita-cerita Jenaka” dlm. Manusia Indonesia 4: 1-2 hlm. 17-28; Liaw Yock Fang, 1975. Sejarah Kesusasteraan Melayu Klasik. Singapura: Pustaka Nasional Pte. Ltd.; M. Ramlan, 1972. “Sekelumit Cerita Jenaka Nusantara” dlm. Dewan Bahasa 16:8 Ogos him. 356-362; Winstedt, R.O., 1969. A History of Classical Malay Literature. Kuala Lumpur: Oxford University Press; Zalila Sharif dan Jamilah Haji Ahmad (ed.), 1993. Kesusasteraan Melayu Tradisional. Kuala Lumpur: Dewan Bahasa dan Pustaka; Elmustian, 1999. Haji Ibrahim Datuk Kaya Muda Riau Pengarang Melayu  Abad ke-19. Pekanbaru: Unri Press, 1999.

Rujukan:
1. Dewan Bahasa dan Pustaka. 1999. Ensiklopedia Sejarah dan Kebudayaan Melayu, edisi kedua cetakan pertama. Selagor: Dewan Bahasa dan Pustaka
2. Elmustian Rahman. 1999. Haji Ibrahim Datuk Kaya Muda Riau Pengarang Melayu Abad ke-19. Pekanbaru: Unri Press
3. Hasan Junus. 2005. Acar, Selesai dan Zeno, Kumpulan Rampai. Pekanbaru: Yayasan Sagang

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *