Scroll ke bawah untuk melihat konten
Bahasa & Sastra

Cerita Jenaka

×

Cerita Jenaka

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi. Petuah Pak Garam Cerita Rakyat dari Sakai, Bengkalis. Foto: pxhere.com

Cerita-cerita Pak Pandir, Pak Kaduk dan Lebai Malang misalnya mendasarkan unsur humornya pada kejadian biasa dalam kehidupan manusia sehari-hari. Unsur kebodohan dan kelurusan Pak Pandir dan Pak Kaduk dalam menghadapi sesuatu situasi melahirkan unsur humor. Lebai Malang yang berusaha mendapat sebanyak mungkin keuntungan, akhirnya mengalami kerugian dan pendengar atau pembaca akan mengetawakannya, sambil mengingati pengajaran yang diajukan oleh pencerita. Karena tamak akhirnya Lebai Malang langsung tidak merasa satu pun jamuan kenduri sedangkan dia telah mengatur strategi yang menjaminkan kejayaan.

Ketika Pak Pandir memandikan anaknya dengan air panas, pembaca tahu yang anak itu mati terseringai, sedang Pak Pandir menyangka anak itu suka mandi air panas. Ternyata di sini terdapat juga unsur ironis. Apabila Pak Pandir berhasil membunuh Gergasi, pendengar ikut gembira karena Pak Pandir mampu bertanding kepintaran dan kekuatan dengan Gergasi yang besar dan kuat.

Advertisement
Scroll ke bawah untuk melihat konten

Unsur humor dalam kisah Lebai Malang adalah apabila dia sudah mendekati kejayaan, nasibnya yang baik berubah hingga kampung dan rumah tangganya tergadai. Begitu juga dengan Si Luncai yang sebelumnya berhasil menipu pelbagai orang dengan kenakalannya hingga berhasil mempersunting seorang puteri bangsawan. Berbeda dari Pak Belalang dalam Cerita Pak Belalang, Luncai menerima maut di tangan isterinya dan tidak sempat menikmati hasil kenakalannya itu.

Baca Juga:  Seni Pertunjukan Nyanyi Panjang

Pak Belalang mengaut kejayaan semata-mata karena unsur ‘kebetulan’. Sedang dia mengenangkan kehidupannya yang miskin, dia menghitung kue cucur yang sedang digoreng isterinya. Secara kebetulan semasa dia menghitung, tujuh orang pencuri melewati rumahnya dan menyerah diri kepadanya karena menyangka Pak Bela­lang mengetahui mereka berada di situ. Pak Belalang mendapat kedudukan nujum diraja setelah berhasil me­nunjukkan di mana barang-barang raja yang dicuri, disembunyikan. Nasib Pak Belalang lebih baik daripada nasib Si Luncai karena sebenarnya dia bukan saja bergantung pada nasib dan kebetulan, tetapi dia senantiasa berusaha mencari penyelesaian masalah yang dihadapinya.

Cerita Mat Jenin, mengemukakan kisah seorang yang menghadapi kekecewaan karena kejayaan yang diangan-angankan hanya wujud dalam khayalannya. Semasa memanjat pokok kelapa untuk memetik buah kelapa, Mat Jenin mengangankan apa yang akan dilakukan dengan uang yang diperolehinya, dari satu tahap ke satu tahap, hingga terleka, lalu jatuh dari pohon kelapa itu dan mati.

Cerita Pelanduk Jenaka, mengemukakan watak utama binatang yaitu pelanduk sebagai binatang yang bijak dan mampu mengatasi perlawanan binatang lain yang lebih kuat dan besar. Ada masanya pelanduk bertindak sebagai perunding manusia. Terdapat cerita pelanduk menyelesaikan soal hutang antara dua orang dengan bijak. Ada juga cerita yang menonjolkan watak pe­landuk sebagai binatang yang bijak yang dapat menipu harimau, buaya dan lain-lain untuk melepaskan dirinya dari bahaya. Unsur penceritaannya hampir sama dengan Cerita Sang Lamri yang berasal dari Timur Tengah.

Baca Juga:  Onduo, Nyanyian Pengantar Tidur Rokan

Hikayat Mahshodhak, mengemukakan watak seorang kanak-kanak dari hulu Negeri yang tidak tahu adat istiadat masyarakat yang bertamadun di pusat Negeri. Akan tetapi keistimewaan kanak-kanak berumur tujuh ta­hun ini ialah dia bijak dan dapat menyelesaikan pelbagai masalah yang tidak dapat dirangkai oleh pegawai istana. Oleh sebab kebijaksanaannya, Mahshodhak difitnah dan diusir dari Negeri, tetapi raja dinasihatkan memanggilnya kembali. Terdapat persamaan dari segi masalah yang dikemukakan untuk diselesaikan oleh watak ini dengan masalah yang dihadapkan kepada Pak Belalang. Perbedaannya ialah Pak Belalang dibantu  oleh unsur kebetulan dalam usahanya mencari jawaban, tetapi Mah­shodhak menggunakan kepintarannya sendiri.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *