Scroll ke bawah untuk melihat konten
Bahasa & Sastra

Asal Mula Burung Punai-Pelalawan

×

Asal Mula Burung Punai-Pelalawan

Sebarkan artikel ini
Asal Mula Burung Punai. (Ilustrasi: budayamelayuriau.org)

“Tidak… Saya sudah menjadi burung. Makan buah kayu ara,” kata anaknya yang telah menjadi bu­rung punai itu.

 Setelah berkata begitu ia terus mematuk buah kayu ara dari dahan satu ke dahan yang lain. Ayahnya merasa kasihan melihat nasib anaknya itu. Mengambil parang dan memotong dahan kayu ara tempat burung Punai itu hinggap. Ketika batang kayu yang ditebang putus, maka burung punai itu pun terbang ke dahan yang lain. Kemudian ia menyanyi lagi:

Advertisement
Scroll ke bawah untuk melihat konten

Sing! Tali gasing
Alit gasing dan buah keras
Sampai hati ibu!
Ditanaknya saya gasing
Digulainya tali gasing
Menjadi punai saya kini
Makan buah kayu ara.

“Marilah  Nak, mari!  Ini ada ibu bawakan nasi, Nak,” kata emaknya sedi.
“Tidak. Saya sudah menjadi Punai, makan buah kayu ara,”  kata Punai itu.

Ditebang oleh ayahnya kayu ara tempat punai itu hinggap. Pohon itu pun tumbang. Punai itu terbang ke kayu yang lain. Demikian seterusnya dan akhirnya lama kelamaan kedua orang tua itu sudah jauh meninggalkan ladangnya. Perbekalan sudah habis, sedang jalan pulang sudah tidak tahu lagi. Oleh karena terlalu sa­yang kepada anaknya, maka kedua orang tua tadi meninggal dalam hutan itu.***

Cerita dikutip dari buku:
Derichard H. Putra, dkk. 2007. Cerita Rakyat Daerah Riau. Pekanbaru: Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Provinsi Riau.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *