Scroll ke bawah untuk melihat konten
Bahasa & Sastra

Asal Mula Burung Punai-Pelalawan

×

Asal Mula Burung Punai-Pelalawan

Sebarkan artikel ini
Asal Mula Burung Punai. (Ilustrasi: budayamelayuriau.org)

Ada suatu kebiasaan di Pelalawan, apabila air surut semua anak-anak gemar bermain gasing. Pada umumnya orang tua merasa kesal apabila musim bergasing tiba. Kini musim bergasing itu tiba. Atan asyik bermain ga­sing sejak pagi sampai petang. Orang tuanya amat resah karena Atan telah lupa pergi ke surau belajar mengaji. Telah lama ia tidak pergi ke surau. Guru mengaji telah berkali-kali datang ke rumahnya menanyakan keadaan Atan. Hati emaknya bertambah kesal melihat perangai anak tunggal yang diharapkannya itu. Pada suatu hari ketika Atan pulang dari bermain gasing, emaknya tak sanggup lagi menahan amarahnya.

 “Sudah berapa lama engkau tidak me­ngaji ke surau karena asyik bermain gasing saja. Engkau melupakan segala-galanya!” Kata emaknya.

Advertisement
Scroll ke bawah untuk melihat konten

“Kesudahannya engkau aku beri makan gasing saja!” Sambung emaknya lagi.

Mendengar omelan emaknya itu Atan diam saja.

Kemudian ayahnya berkata pula.

“Tan, ayah lihat engkau asyik bergasing saja. Sudah lupa engkau dengan makan minum, apalagi mengaji. Sejak bergasing engkau tak pernah lagi menolong emakmu. Apa engkau bisa kenyang makan ga­sing?”

Mendengar perkataan ayahnya Atan Cuma diam saja, seolah-olah menyimak omelan orang tuanya. Namun, apabila ayahnya pergi dari rumah, ia beranjak pula pergi bermain gasing. Begitulah kelakuannya, terus menerus dilakukannya. Pendeknya Atan sudah lupa segalanya karena asyik bermain gasing, seperti kena hantu gasing. Orang Pelalawan mengatakan kalau anak sudah kena hantu gasing tak dapat bekerja apa pun.

Baca Juga:  Ayam Ditelan Ular-Cerita Yong Dollah

Pada suatu hari Atan pergi bermain gasing, sorenya Atan tidak pulang. Besoknya ia tetap tidak pulang ke rumah. Sekali waktu ada juga Atan pulang, tetapi ketika orang tuanya sudah tidak berada di rumah. Atan makan apa yang ada di rumahnya. Ayahnya pun tidak peduli dan tidak mau pula mencarinya di mana ia berada.

Pada suatu malam ayah Atan berkata kepada isterinya.

“Memanjakan anak tak boleh berkelebihan. Lihatlah si Atan dimanja terus. Makin menjadi-jadilah nakalnya. Oleh sebab itu, sejak sekarang biarkan saja, tak usah kita hiraukan.”

Oleh karena orang tuanya tidak memperdulikannya, kenakalan Atan semakin menjadi-jadi. Ia semakin jarang pulang ke rumah, pergi ke surau tak pernah lagi. Hati orang tuanya se­makin kesal dan jengkel. Nasi untuk Atan tak pernah disediakan jika kedua orang tuanya pergi ke ladang.

Pada suatu hari sebelum pergi ke ladang, dimasaknya tali gasingnya dibuatnya gulai, kemudian  barulah kedunya pergi ke ladang. Melihat kedua orangtuanya pergi ke ladang, Atan pun pulang mengendap-endap, agar tidak diketahui orang tuanya. Perutnya sangat lapar ia ingin makan. Pintu ramahnya terkunci namun ia tak kehabisan akal. Ia naik dari jendela. Karena lapar dibukanya periuk terlihat gasing, di buka belanga terlihat tali gasing. Karena itu menangislah ia sambil beryanyi berpantun:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *