KONON tersebut dan disurat, awal tersurat satu rencana. Adalah di suatu zaman di kerajaan Inderagiri hiduplah tiga orang Datuk yang amat disegani dan dihormati. Tiga datuk itu bernama Datuk Patih, Datuk Temenggung, dan Datuk Bendahara.
Ketiga datuk ini hidup rukun, damai, dan sentosa. Saling membantu bahu membahu, menyejahterakan kerajaan Inderagiri yang waktu itu pusat pemerintahan berada di Japura, tempat yang dulu semula bernama Rajapura.
Pada suatu hari ketika nama sungai belum bernama sungai Indragiri sungai keruh namanya, salah seorang dari tiga datuk itu, Datuk Sakti namanya, pergi menghiliri rakit di Sungai Keruh tersebut. Setelah sore ia pun tiba pada suatu tebing dan ia menaikinya hendak beristirahat. Beliau pergi memasuki hutan dan sampai di tepi sebuah kolam yang gemericik airnya merdu, airnya jernih, dan tenang cemerlang bak loyang.
Alangkah terperanjatnya Datuk Sakti melihat sekumpulan wanita-wanita cantik terbang dari angkasa turunke bumi. Ketika itu juga Datuk Sakti jalang terjungkit-jungkit melihat makhluk yang baru saja dilihatnya. Ia tak percaya, dilihatnya kembali dengan mengusap-usapkan matanya, takut kalau semua itu hanya mimpi.
Satu persatu wanita itu melepaskan pakaian yang melilit dari tubuhnya.
“Wah alangkah sempurnanya manusia itu,” katanya dalam hati. Ia asyik memperhatikan tingkah laku wanita-wanita cantik itu, hingga lupa merencanakan sesuatu.
Sekumpulan wanita cantik itu pun selesai mandi, dan mereka pun terbang menghilang.
Barulah Datuk Sakti dapat ilham, “alangkah baiknya kalau wanita cantik itu dapat kutangkap untuk dijadikan isteri, tapi bagaimana caranya?” pikir Datuk Sakti merenung.
Ia ingat senja itu senja malam purnama. Pastilah mereka akan datang pada senja malam purnama berikutnya. Ia akan menunggu sepurnama lagi.
Sepurnama itu pun Datuk Sakti berpikir keras bagaimana caranya menangkap satu saja wanita cantik itu untuk diperisteri. Ia pun rajin berdoa. Berdoa akan mengubah retak tangan yang telah digariskan Tuhan, pikir Datuk Sakti dalam hati.








