Selain berdoa, ia pun rajin bekerja, dan berpikir keras. Ia membersih tubuhnya dengan asap kemenyan tujuh petang, mandi limau tujuh pagi tujuh petang. Katanya untuk membuang sial.
Pada hari yang dinantikannya itu, Datuk Sakti pun pergi terlebih dahulu, ia bergegas menuju kolam loyang tempat di mana para wanita kayangan itu mandi bersuka ria, berkecipak kecipung di senja hari.
Datuk Sakti pun mendatangi tempat itu berjingkat-jingkat. Ia mengambil dedaunan sebanyak-banyaknya dan menimbun badannya dengan dedaunan itu. Ia perbaiki dengan sangat rapi. Ia akan melakukannya dengan tipu muslihat.
“Jangan sampai ketahuan oleh para peri tersebut. Kalau sempat tahu maka hancurlah harapanku selama ini,” katanya bertekad dalam hati.
Sedang asyik masyuk berpikir begitu, maka datanglah sekelebat bayangan putih. Langit bersinar oleh cahaya kecantikan para wanita kayangan tersebut. Mereka pun menanggalkan pakaian satu persatu. Dan, terjunlah ke dalam kolan yang airnya jernih berbinar. Hiruk pikuk, berkecipak-kecipung. Para peri itu bernyanyi dengan suara merdu menenteramkan orang yang mendengarkannya.
Ketika peri-peri itu asyik mandi, Datuk Sakti itu pun bergerak sedikit demi sedikit, dan memegang ranting yang sudah dipersiapkannya. Dengan sangat hati-hati, Datuk itu mencoba mengambil salah satu selendang bidadari itu.
Hi ip, satu lagi, masih kainnya yang belum dapat. Akhirnya dapatlah apa yang diinginklan Datuk Sakti itu.
Senja pun berangkat malam, para wanita cantik itu pun satu persatu naik ke darat, mengambil pakaian, dan mengenakkannya ke badannya. Akan tetapi dari sekian banyak bidadari itu ada seorang yang tidak dapat mencari pakaiannya. Teman-temannya yang lain tak dapat menolong.
Seorang bidadari yang malang itu menangis tersedu-sedu. Hatinya sedih benar. Tangisannya menusuk kalbu bagi siapa saja yang mendengarnya.
Datuk Sakti keluar dari persembunyiannya, dan mendekati wanita malang tersebut.
Aku akan mengambalikan pakaianmu dengan syarat engkau mau aku peristeri,” kata Datuk Sakti dengan lemah lembut.
“Aku akan mematuhi kedendakmu tuan dengan satu syarat,” kata sang puteri nan cantik jelita itu.








