“Apakah satu syarat itu?” tanya Datuk Sakti.
“Jangan menceritakan asal-usulku dan peristiwa ini,” kata wanita itu sesungukan.
Datuk Sakti dengan senang hati menerima syarat itu, yang rasanya tidaklah memberatkan.
Masa berlalu masa. Mereka pun kawin dan sangat membahagiakan. Tidak lama kemudian mereka pun mempunyai anak. Anak itu kemudian besar dan cerdas. Seperti dimakan waktu, Datuk Sakti pun tidak ingat lagi janjinya dengan isteri tercintanya. Dan, pada suatu hari Datuk Sakti melanggar pantang larang yang dijanjikannya. Karena itulah isterinya mengambil kainnya dan pergi meninggalkan Datuk Sakti dan anaknya yang dicintainya. Ia kembali terbang ke kayangan.
Kampung itulah yang kemudian dinamakan Keloyang atau nama sekarang Kelayang. Nama keloyang kononnya berasal dari Kolam Loyang, sedangkan Kelayang berarti tempat sekumpulan wanita cantik dari kayangan itu terbang melayang***
Catt:
Cerita ini merupakan saduran dari buku Cerita Rakyat Indragiri Hulu yang diterbitkan oleh Pemerintah Daerah Tk. II Indragiri Hulu, 1999. Tidak dijelaskan pencatat dalam cerita. Cerita ini cukup terkenal di kalangan masyarakat Indragiri karena berbagai kebijakan pemerintah Indragiri Hulu saat ini difokuskan pada upaya menghargai dan melestarikan kolam loyang di Kecamatan Kelayang. Kolam loyang ini merupakan icon kebudayaan masyarakat di daerah itu.








