DAHULU kala, di pinggir sungai kecil yang airnya bening dan sejuk. Tinggallah sepasang suami isteri dengan seorang anak laki-lakinya bernama Atan. Kehidupan mereka sangat miskin. Tapi mereka tidak pernah putus asa, setiap hari mereka selalu bekerja dan berusaha, agar suatu saat nanti kehidupan mereka bisa lebih baik. Apalagi si buah hati yang mereka cintai, pelipur lara di kala duka, tertawa di kala suka, tumpuan di masa depan, sedang kuat-kuatnya makan. Mereka tidak menginginkan anaknya tetap miskin seperti kehidupan sekarang, ia berharap kelak sang anak dapat menjadi manusia yang baik, saleh, dan berbakti.
Demikianlah, setiap hari orang tua Atan bekerja keras. Ayahnya rajin pergi ke ladang atau menangkap ikan. Hasilnya dijual di kampung Bunut Panduk, Langgam, Nilo, dan Kemang. Letak kampung ini sangat jauh dari Pelalawan. Untuk mencapai tiap-tiap kampung itu, ia harus berjalan berhari-hari lamanya sambil memikul dan menjinjing beban bawaannya. Namun, ia tak pernah mengeluh ataupun merasa lelah demi membahagiakan anaknya.
Dan, setiap pulang dari berdagang dan setiap sampai di rumah, melihat sang anak yang sedang tertawa, tumbuhlah segala asa dan sirnalah segala lelah. Dari hasil berdagang, uang yang diperolehnya ditabung sedikit demi sedikit. Mereka hidup hemat. Makan dan pakaian seperlunya saja.
Ayah dan emak Atan selalu berdoa agar badannya tetap sehat, dan dapat pula menambah rezeki untuk anaknya. Di samping itu, Atan semakin meningkat besar. Badannya sehat, lincah, dan riang. Kedua orang tuanya amat bangga dan bahagia.
Suatu hari ayah Atan mengajaknya berbual.
“Nak! Kemari nak!” Panggil sang ayah dengan lembut, sambil melambaikan tangannya ke arah Atan.
“Ada apa Yah?” Tanya Atan. Ia mendekati ayahnya lalu duduk di pangkuan ayahnya.
“Nak, kami ingin melihat engkau pandai mengaji dan belajar ilmu agama, untuk bekal di masa depan,” jelas sang ayah. Tangannya tak henti membelai rambut sang anak, si buah hati.
“Karena itu, mulai besok engkau mulai belajar di surai,” kata sang ayah.
“Baik Ayah!” Jawab Atan.
“Apabila dikau dah mengaji, janganlah engkau nakal ya nak dan belajar dengan baik,” nasihatnya kepada Atan.
“Iya Ayah, Atan akan belajar dengan baik,” kata Atan.
Sejak saat itu Atan pun diserahkan ke sebuah surau yang ada di kampung itu untuk belajar mengaji. Awalnya Atan sangat rajin pergi mengaji. Setiap hari ia pergi ke surau bersama teman-temannya. Apabila air banjir Atan diantar oleh ayahnya dengan sebuah perahu kecil. Waktu pulang emaknya pula yang menjemput Atan.








