KONON, tersebutlah kisah sebuah kerajaan bernama Kerajaaan Gasib yang terletak di hulu Sungai Siak. Kerajaan Gasib berdiri pada abad keempat belas. Kerajaan ini merupakan penerus Kerajaan Sriwijaya yang telah runtuh. Kerajaan Gasib dipimpin oleh raja bernama Raja Bedagai, seorang raja yang bijaksana pada rakyat dan sayang terhadap keluarga. Selain merupakan negeri yang tenang, Gasib juga sangat aman. Tak ada gangguan, baik dari dalam maupun dari luar kerajaan. Semua itu tentu tidak lepas dari peran seorang panglimanya yang bernama Gimpam.
Gimpam adalah seorang panglima yang gagah perkasa dan mempunyai rasa tanggung jawab yang besar terhadap keamanan kerajaan. Maka, wajar bila Gimpam menjadi panglima yang sangat disegani oleh rakyat dan kerajaaan lain. Selain itu, Gimpam juga menjadi panglima yang sangat dipercaya oleh Raja. Raja Bedagai mengamanahkan keamanan kerajaan sepenuhnya pada Gimpam.
Akan tetapi, kerajaan yang aman tentram tersebut, tiba-tiba menjadi terganggu. Penyebabnya adalah ketika Raja dari Aceh hendak meminang anak Raja Bedagai yang bernama Putri Kaca Mayang. Putri Raja adalah seorang putri yang cantik jelita. Tubuhnya tinggi semampai, rambutnya panjang terurai, bibirnya merah delima, dan tutur katanya sopan. Kecantikannya telah terkenal di seluruh pelosok negeri dan di seluruh kerajaan. Kecantikannya telah membuat para raja dari kerajaan lain tergila-gila. Semua raja ingin menjadikannya permaisuri.
Raja Aceh adalah satu di antara raja yang sangat ingin menjadikan Putri Kaca Mayang sebagai permaisuri. Raja Aceh juga satu-satunya raja yang paling berani melamar Putri Kaca Mayang. Selama ini raja dari kerajaan lain tak satu pun yang mempunyai nyali. Untuk menyampaikan maksudnya tersebut, Raja Aceh pun mengirim dua orang utusannya untuk menghadap Raja Bedagai.
“Ampun Tuanku, hamba adalah utusan dari Raja Aceh,” sembah utusan Raja Aceh dengan sopan.
“Ya, apa maksud Sanak berkunjung, katakanlah. Jika kami bisa membantu, akan kami bantu,” ujar Raja Bedagai.
“Begini Tuan, kami diutus oleh Raja Aceh untuk meminang putri Tuan yang bernama Putri Kaca Mayang.”
Raja Bedagai sangat terkejut, tetapi buru-buru ia tutup kegugupannya dengan melempar senyum, lalu diam sejenak. Terbayang oleh Raja, wajah putrinya yang masih muda belia dan belum layak untuk menikah. Agar utusan dan Raja Aceh tidak tersinggung, maka Raja Bedagai pun menjawab dengan sangat hati-hati. “Sampaikan terima kasih kami kepada Rajamu,” kemudian Raja Gasib diam sejenak, “anak kami masih muda belia, dia belum hendak kami nikahkan. Jadi, kami mohon maaf karena belum bisa menerima.”
Utusan pun pulang dengan tangan hampa. Di tengah perjalanan, kedua utusan itu berdiskusi bagaimana cara menyampaikan kepada Raja Aceh tentang kabar buruk tersebut. Mereka takut Raja akan marah.
“Bagaimana ya, cara kita menyampaikan kepada Raja?” tanya salah seorang utusan yang berambut lurus.
“Iya, bingung juga. Raja pasti takkan menduga hal ini. Di antara para putri, Putri Kaca Mayang yang hanya disukai oleh Raja. Putri-putri lain, Raja bergeming saja,” balas utusan satunya.
Keduanya terus berdiskusi sambil bergerak pulang. Akhirnya mereka memutuskan untuk berterus-terang saja, apa pun nanti risikonya.
Setelah menempuh perjalanan yang cukup jauh, kedua utusan pun tiba di Kerajaan Aceh. Serta merta mereka menyampaikan kepada Raja.
“Ampun Tuan, kami sudah menyampaikan pesan Tuan kepada Raja Bedagai.”
“Lantas, mereka menerima lamaran itu?” tanya raja penuh semangat.
“Maaf Tuan, Raja Bedagai belum hendak mengizinkan putrinya untuk menikah, karena masih sangat muda.”
Mendengar hal tersebut, Raja Aceh merasa malu lamarannya ditolak. Tampak mukanya memerah. Kecantikan wajah Putri Kaca Mayang telah membuatnya tergila-gila. Ia tak ingin gadis itu dimiliki oleh orang lain.
“Baiklah, tunggu saja apa yang akan kulakukan,” kata Raja Aceh sambil mengepalkan kedua tangan.
Raja Aceh kemudian menyusun rencana. Lalu, dengan dibantu oleh beberapa prajurit mereka sengaja membuat kekacauan di Kerajaan Gasib. Saat semua lengah, saat itulah Putri Kaca Mayang mereka culik dan dibawa ke Kerajaan Aceh.
Kerajaan Gasib gempar. Raja bukan kepalang marahnya. Putri cantiknya telah diculik. Dengan perasaan murka, Raja Bedagai memanggil Panglima Gimpam.
“Wahai Panglima Gimpam, berangkatlah ke Kerajaan Aceh, bawalah prajurit yang kau butuhkan. Jangan pulang sebelum putriku berhasil dibawa kembali,” perintah Raja Bedagai kepada Panglima Gimpam.
“Baiklah Paduka, titah Tuan akan segera hamba laksanakan,” jawab Panglima Gimpam
Raja Aceh melalui mata-matanya mengetahui kedatangan Panglima Gimpam. Ia pun menyusun strategi agar panglima hebat itu tidak bisa masuk ke kerajaannya. Seekor gajah telah disiapkan untuk menghadang Panglima Gimpam. Raja Aceh yakin, sudah banyak musuhnya yang tak berdaya menghadapi gajah tersebut. Begitu pun harapannya kali ini terhadap Panglima Gimpam. Ia membayangkan panglima hebat itu akan lari terbirit-birit bersama pasukannya.
Melihat ada binatang menghadang jalannya, Panglima Gimpam lalu mendekat. Dengan penuh kasih sayang ia memandang mata sang gajah.








