“Mengapa engkau menghalangi jalanku wahai Sahabat?” tanya Panglima Gimpam sembari mengusap belalai sang gajah, “Apa salahku padamu?”
Gajah tak melakukan apa-apa. Gajah hanya diam. Tanpa dikomando, sang gajah menunduk seperti memberi hormat kepada Panglima Gimpam. Lalu gajah mendekatkan tubuhnya ke arah Panglima Gimpam. Gerakan itu memberi aba-aba kepada panglima agar naik ke punggung gajah.
Kemudian dengan mengendarai gajah, Panglima Gimpam pun menuju istana Kerajaan Aceh dan menjumpai Raja Aceh. Melihat kehadiran Panglima Gimpam dengan mengendarai gajah suruhannya, Raja Aceh sangat kaget. Ia heran mengapa gajah tidak mencelakai Panglima Kerajaan Gasib itu, bahkan gajah itu ia tunggangi.
Raja Aceh pun semakin salut terhadap kehebatan Panglima Gimpam. Apa yang ditakutkan selama ini oleh kerajaan lain memang terbukti. Panglima itu memang mempunyai kesaktian yang luar biasa. Belum ada tandingannya di negeri manapun.
“Anda sungguh hebat, saya semakin kagum terhadap kesaktianmu Sanak,” kata Raja Aceh saat mengetahui Panglima Gimpam sudah berada di depannya.
Selama ini Raja Aceh, raja-raja lain, dan rakyat, menduga bahwa Panglima Gimpam mempunyai kesaktian. Padahal sesungguhnya Panglima tidak mempunyai kesaktian apapun. Tidak juga memiliki ilmu yang mumpuni. Panglima Gimpam adalah manusia biasa. Manusia yang diciptakan oleh Tuhan, pemilik alam semesta. Lalu, di manakah letak kesaktian Panglima? Kesaktian Panglima terletak pada hatinya yang bersih, hatinya yang mempunyai rasa kasih sayang terhadap siapa pun. Hati yang tidak ingin menyelesaikan masalah dengan kekerasan. Itulah kesaktian Panglima Gimpam. Maka, peperangan dapat dihindari. Putri Kaca Mayang pun berhasil dibawa pulang oleh Panglima Gimpam.
Putri Kaca Mayang merasa senang bisa kembali ke kerajaan. Namun, di tengah perjalanan, putri sakit. Tubuhnya begitu lemah. Panglima tidak tega meneruskan perjalanan. Dia ingin putri beristirahat.
“Bagaimana kalau kita istirahat saja Tuan Putri?” saran Panglima Gimpam.
“Tidak usah Panglima, kita lanjutkan saja perjalanan,” jawab Tuan Putri.
“Tapi, Tuan Putri…”
“Tidak usahlah, kita teruskan saja, aku ingin segera sampai di kerajaan untuk bertemu ayah dan ibu.”
“Baik, Tuan Putri,” Panglima dengan terpaksa mengikuti perintah Putri Kaca Mayang.
Akan tetapi, saat hampir memasuki perbatasan, Putri Kaca Mayang tidak bisa bertahan. Putri meninggal dunia. Panglima tetap membawa putri sampai ke kerajaan. Raja sangat berduka. Apa hendak dikata. Mungkin ini sudah suratan takdir. Putri Kaca Mayang meninggal dalam usia yang belia. Seluruh rakyat juga turut bersedih. Karena kesedihan tersebut Raja Bedagai dan keluarganya pergi merantau ke Melaka. Sedangkan Kerajaan Gasib diserahkan kepada Panglima Gimpam. Raja yakin, kerajaan akan semakin maju di bawah kepemimpinan Panglima Gimpam.
Panglima Gimpam tidak berlama-lama memimpin Kerajaan Gasib. Panglima sadar, bahwa kerajaan itu bukan miliknya. Makanya Panglima Gimpam memutuskan pergi ke sebuah hutan belantara dan membuka pemukiman di sana. Pemukiman tersebut makin hari makin berkembang. Banyak penduduk yang berdatangan. Itulah yang sekarang dikenal dengan nama Kota Pekanbaru.
Catatan:
Cerita ini berkaitan dengan cerita Putri Kaca Mayang.








