Scroll ke bawah untuk melihat konten
Cerpen

Ayah

×

Ayah

Sebarkan artikel ini
Cerpen "Ayah" oleh: Kalam Enau. (Ilustrasi: kosabudaya.id)

Ayah yang sepulang dari masjid selalu lebih banyak diam, ayah yang dengan sabar mengantarku ke sekolah setiap hari, ayah yang tak pernah marah meski sering kutinggalkan lama di gerbang sekolah, kini ternyata masih sempat-sempatnya memikirkan keselamatanku di jalan ketika nanti memakai sepeda motor baru?

Aku tercekat. Sementara teman-temanku kembali bercanda dan tertawa, kepalaku penuh dengan bayangan ayah di jalanan malam hari—berjongkok di bawah lampu jalan yang temaram, tangannya kotor berlumur semen, wajahnya penuh peluh, hanya demi menambal lubang-lubang di jalanan untuk ku.

Advertisement
Scroll ke bawah untuk melihat konten

Tanpa sadar, air mataku menetes. Aku buru-buru menunduk, berpura-pura mengikat tali sepatu.

***

Bel pulang berbunyi nyaring. Seperti biasa, anak-anak lain berlarian keluar kelas. Biasanya aku yang akan menunda langkah, singgah ke kantin, pura-pura sibuk agar tak langsung terlihat naik motor butut ayah. Tapi kali ini, aku justru bergegas menuju gerbang.

Ayah sudah berdiri di sana dengan senyum teduhnya yang khas. Motor tuanya menunggu dengan setia. Entah kenapa, pemandangan itu membuat air mataku menetes lagi. Ada rasa bersalah yang menekan begitu dalam di dadaku.

Tanpa menunda, aku berjalan cepat dan langsung meraih helm yang ayah sodorkan.

“Ayah… ayo kita pulang,” kataku lirih, menahan getar suara.

Ayah sempat menatap heran, mungkin karena biasanya aku selalu lama muncul. Tapi ia tidak bertanya. Ia tetap tersenyum seperti biasa.

Baca Juga:  Kepala

Saat motor berjalan menyusuri jalan yang kini mulus, aku memeluk erat tubuh ayah.

“Yah…” panggilku pelan.

“Iya!?” jawabnya sambil tetap fokus mengendalikan motor.

“Syia nggak mau pakai motor baru itu. Biarlah ayah saja yang pakai. Syia … Syia senang kok naik motor ini, asal sama ayah.”

Ayah tidak langsung menjawab. Hanya ada hembusan angin sore yang masuk lewat sela helm membawa aroma jalanan yang akrab. Tapi aku tahu, di balik diamnya, ada sesuatu yang hangat menyusup ke dalam hatinya.

“Aku sayang ayah,” gumanku dalam hati.

Motor masih melaju pelan, meninggalkan senja, meninggalkan geng mawar, dan meninggalkan semua kerikil kecil yang tak lagi penting. Yang tersisa hanyalah aku, ayah, dan motor butut yang kini terasa seperti kendaraan paling indah di dunia. (special to ayah di manapun berada).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Cerpen