Ayah tidak pernah sekalipun bertanya kenapa aku sering terlambat keluar sekolah. Ia tidak pernah marah meski harus menunggu lama di gerbang. Yang kutahu, setiap hari ia mengantar dan menjemput dengan motor bututnya, dengan pakaian sederhananya, dan dengan senyum yang selalu sama—senyum yang menyambutku tanpa syarat.
Aku terdiam. Ada desir aneh di dalam dadaku. Suara ayah yang bersenandung itu seperti sedang menenangkan semua keributan pikiranku.
Sesampainya di rumah, aku langsung bergegas masuk kamar dengan wajah masam. Helm kulempar begitu saja ke pojok, tas juga kuletakkan asal di kursi. Dari arah dapur, terdengar suara Ibu memanggil lembut seperti biasanya.
“Asyia, kamu nggak makan dulu, sayang?” serunya sambil berisik mengaduk sesuatu di kuali.
“Ibu sudah buatkan gulai asam pedas kesukaanmu!” Lanjutnya lagi.
Aku pura-pura tidak mendengar. Rasanya mulutku kelu, perutku malah jadi mual. Wajah-wajah geng mawar itu masih berputar-putar di kepalaku. Tatapan mereka, tawa yang mereka tahan-tahan tapi jelas kudengar, semua membuatku seperti ditelanjangi di depan sekolah.
“Aku udah kenyang, Bu,” sahutku setengah berteriak, meski jelas-jelas aku belum makan apa pun sejak siang tadi. Kenyang oleh rasa malu.
Aku lalu menarik selimut dan menutupi wajahku.
***
Malam harinya, aku masih saja uring-uringan. Di rumah, suasana terasa biasa saja—kecuali wajahku yang masam dan cemberut. Aku duduk di pojok ruang tamu sambil men-scroll layar ponsel, padahal tak ada yang benar-benar ingin kulihat.
“Kamu kenapa, Syia?” suara Ibu terdengar dari dapur, kali ini lebih pelan, seperti ragu kalau aku mau menjawab.
Aku diam saja, pura-pura sibuk dengan ponsel. Rasanya aku takut membuka mulut, karena kalau bicara, aku khawatir semua kekesalan ini tumpah ke orang yang salah.
Ayah tidak ada di rumah. Seperti biasanya, selepas Magrib ia ke masjid dan baru pulang setelah Isya. Entah kenapa, aku merasa lega ayah tak ada di rumah. Aku tak tahu harus menatap wajahnya atau tidak setelah kejadian tadi di sekolah. Ada rasa malu yang aneh—malu yang bahkan tak berani kuceritakan pada ibu.
Aku merebahkan tubuh di sofa, memeluk bantal erat-erat. Perasaan campur aduk itu masih menyesakkan dada.
Ibu tiba-tiba mendekat, lalu duduk di sampingku.
“Kenapa, kenapa? Cerita sama Ibu, Nak,” suara ibu lembut penuh rasa ingin tahu.
Aku diam. Mulutku seperti terkunci. Tapi entah kenapa, tiba-tiba saja kata-kata itu meluncur begitu saja, tanpa kupikir panjang.
“Aku mau motor, Bu. Aku nggak mau dijemput lagi. Aku mau motoran sendiri ke sekolah.”
Ibu menatapku, matanya sedikit melebar. Sejenak suasana jadi hening, hanya bunyi kipas angin yang berputar pelan terdengar. Aku bisa melihat raut wajahnya berubah—antara kaget, bingung, sekaligus khawatir.
“Syia… kamu ngomong apa?” katanya akhirnya, suaranya pelan seperti takut aku meledak.
“Aku nggak mau lagi dijemput ayah dengan motor butut itu, Bu! Malu! Teman-teman pada lihat, mereka ngejek. Aku nggak tahan!” Aku menunduk, tapi suaraku meninggi.
Kata-kata itu keluar begitu saja, dan setelahnya aku sendiri terkejut mendengar betapa tajamnya kalimat yang baru kuucapkan.
Ibu menarik napas panjang. Wajahnya masih teduh, tapi aku bisa melihat ada semburat kecewa di matanya.
“Tapi, Nak… kamu kan belum pandai bawa motor. Bahaya kalau kamu paksakan.”
“Aku akan belajar, Bu! Aku bisa! Aku nggak mau lagi dipandang rendah gara-gara motor butut itu. Aku nggak tahan, Bu…” selaku keras.


