Setelah suasana agak sepi, aku akhirnya beranjak ke gerbang sekolah. Langkahku terasa berat. Setiap meter yang kutempuh adalah usaha menyingkirkan rasa malu yang selalu saja gagal.
Ayah tampak senang melihatku datang. Senyum itu… senyum yang sama, sederhana, tulus, tanpa sedikit pun tanda lelah, meski keringatnya masih terlihat membasahi pelipisnya. Ia langsung merapikan posisi motornya seakan-akan kendaraan tua itu mendadak menjadi kendaraan terbaik di dunia.
Seperti biasa, ayah tidak pernah bertanya kenapa aku begitu lambat keluar, atau ke mana tadi singgah. Ia seperti sudah tahu, dan memilih diam. Itu yang membuatku semakin merasa bersalah. Karena sejujurnya, aku memang sudah sering melakukan ini—mengulur waktu, bersembunyi di kantin, menunggu suasana sepi, baru berani menghampirinya.
Aku tahu, ayah menungguku dengan sabar. Selalu begitu. Tapi mengapa aku justru kerap membuatnya menunggu lebih lama?
Saat hendak naik ke motor ayah, langkahku tiba-tiba terhenti. Mataku menangkap sosok Intan bersama geng mawarnya yang ternyata belum juga pulang. Mereka duduk santai di bangku dekat gerbang seperti memang sengaja menunggu tontonan.
Begitu melihatku melangkah ke arah motor butut ayah, tatapan mereka serentak tertuju padaku. Tatapan itu tajam, sinis, penuh ejekan yang tidak perlu diucapkan dengan kata-kata. Dari sorot mata Intan saja, aku tahu ia sedang menikmati detik-detik ini—momen ketika harga diriku bisa dijadikan bahan gosip esok hari.
Aku berusaha menunduk, lalu bergegas naik ke motor. Tapi rasanya seluruh tubuhku kaku, gengsi menjerat, dan wajahku panas terbakar malu. Kenapa pula elang-elang cerewet itu belum pulang? Kenapa harus ada mereka di sana menyaksikan aku seperti ini?
Aku bisa membayangkan, besok di sekolah, tawa dan bisik-bisik akan memenuhi lorong kelas. Namaku akan disebut-sebut, bukan karena prestasi atau apa pun, melainkan karena motor butut ayah yang setia menjemputku setiap hari.
Motor ayah melaju, tidak pelan tapi juga tidak bisa dibilang kencang. Suaranya berderit meraung pendek tiap kali gas diputar. Angin petang menerpa wajahku membawa campuran bau debu jalanan dan asap kendaraan lain. Sesekali, motor kami menghantam lubang yang tersebar di sepanjang jalan.
“Aduh…” gumamku pelan, hampir terlempar dari jok.
Beberapa lubang memang bisa ayah elakkan, tapi sebagian lagi seperti tak bisa dihindari. Aku menggigit bibir menahan rasa kesal. Dalam hati aku menggerutu, kenapa sih pemerintah nggak pernah becus memperbaiki jalan-jalan ini?
Namun aku tahu, sebetulnya bukan jalan yang sepenuhnya membuatku kesal. Bukan juga motor butut ayah yang sesekali batuk kala menanjak. Yang membuat dadaku terasa sesak adalah tatapan geng mawar tadi—mata-mata elang yang selalu mencari celah untuk menertawakan. Aku seperti tontonan gratis murahan lengkap dengan bumbu ejekan yang besok akan jadi bahan gosip.
Aku menarik napas panjang, mencoba menyingkirkan rasa malu itu. Tapi, bayangan wajah mereka terus muncul, serasa masih duduk santai di tepi gerbang sekolah menatapku penuh puas saat aku naik ke motor ayah.
Motor tua ayah terus berjalan, bergetar halus tiap kali melewati jalanan berlubang. Di depanku, ayah duduk tegak. Kedua tangannya mantap menggenggam stang. Sesekali ia bersenandung kecil, lagu-lagu lama yang bahkan aku tak tahu judulnya. Suaranya serak, tapi terdengar begitu tenang.
Aku menatap punggungnya yang mulai bungkuk. Kemeja lusuhnya yang penuh bercak peluh, dan rambutnya yang semakin memutih. Di tengah rasa malu yang tadi masih menempel, tiba-tiba muncul rasa lain yang menusuk dadaku: rasa bersalah.


