Scroll ke bawah untuk melihat konten
Cerpen

Ayah

×

Ayah

Sebarkan artikel ini
Cerpen "Ayah" oleh: Kalam Enau. (Ilustrasi: kosabudaya.id)

Dan entah kenapa, saat itu juga, aku merasa lebih kecil daripada motor matic yang kini terparkir di halaman. Seperti ada hutang yang tidak akan pernah lunas, meski seumur hidup.

***

Advertisement
Scroll ke bawah untuk melihat konten

Pagi seperti biasa, tapi terasa berbeda. Ayah sudah menunggu di depan rumah dengan wajah tenangnya. Aku duduk di belakangnya, masih harus bergantung pada tangannya yang piawai mengendalikan motor. Maklum, motor baruku memang sudah ada, tapi aku belum betul-betul mahir mengendarainya sendiri. Mungkin seminggu lagi baru berani benar-benar ke sekolah tanpa ayah.

Perjalanan pun dimulai. Lalu lintas seperti biasa, motor berdesakan, mobil saling klakson, dan suara knalpot bersahut-sahutan. Namun entah kenapa, hatiku begitu ringan pagi ini. Ada rasa bahagia yang menempel erat—karena aku tahu, sebentar lagi aku akan menunggang motor baruku sendiri. Dan aku tidak sabar melihat ekspresi geng mawar saat aku melewati gerbang sekolah.

Tapi di balik rasa senang itu, aku juga merasa ada yang janggal. Biasanya, perjalanan ke sekolah penuh dengan guncangan kecil. Jalanan bolong di sana-sini, sering membuat motor ayah tersentak tiba-tiba. Anehnya, pagi ini aku tidak merasakannya sama sekali.

Aku perhatikan baik-baik. Eh, ternyata benar. Lubang-lubang yang dulu menganga di sepanjang jalan sudah ditambal dengan semen. Permukaannya tampak rata, meski masih meninggalkan warna yang berbeda.

Baca Juga:  Kepala

Aku terkekeh pelan dalam hati. Hebat kali pemerintah ini. Mereka tahu aku akan segera bawa motor sendiri. Pas sekali waktunya. Jalanan berlubang yang dulu menyebalkan sekarang jadi lebih mulus.

Aku menoleh sekilas ke punggung ayah yang kokoh di depanku. Entah kenapa, hatiku tiba-tiba terenyuh. Lubang-lubang itu memang sudah tertambal, tapi aku sadar, ada banyak kekosongan dalam diriku sendiri yang diam-diam ayah isi, tanpa pernah banyak bicara.

***

Di sekolah, teman-teman segengku menyambutku ramah. Setelah ngobrol hilir mudik, tiba-tiba Nana bertanya kepadaku.

“Ayahmu tidak reparasi alat elektronik lagi?” tanyanya.

“Masih. Kenapa? Ada yang perlu diperbaiki?” Aku balik tanya.

“Oh tidak. Semalam aku lihat ayahmu sedang menambal lubang di jalan, aku pikir ia sudah ganti profesi.”

Aku terdiam mendengar ucapan Nana. Tanganku yang tadi sibuk merapikan rambut langsung berhenti.

“Menambal lubang di jalan?” ulangku pelan, hampir tak percaya.

“Iya! Aku lewat situ pas mau ke rumah temenku. Aku lihat, bener ayahmu!” jawab Nana ringan, sambil menyeruput es teh di tangannya

Dadaku mendadak sesak. Aku tersenyum kaku berusaha menanggapi santai.

“Oh, iya… mungkin benar,” ujarku.

Tapi dalam hati, ada sesuatu yang menggedor keras. Jadi itu alasannya kenapa jalanan yang biasanya penuh lubang tiba-tiba halus dan rata? Bukan pemerintah yang hebat. Bukan pula keberuntungan semata. Itu ayahku.

Baca Juga:  Kepala

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Cerpen