Ibunya meratap melihat keadaan anaknya yang telah menjadi seperti naga tak terpuaskan hausnya.
“Bukankah telah ibu larang anakku?” Kata ibunya menyesali perbuatan anaknya yang memakan telur itu. “Telah ibu tegah engkau memakan telur naga itu. Kau langgar tegahanku, dan inilah yang kau dapatkan anakku Dang Gedunai.”
Sejak semula saya katakan
Tidak kau letakkan dalam padi
Sejak semula saya katakan
Tidak kau letakkan dalam hati
Demikianlah ibu Dang Gedunai menangisi nasib anaknya sampai kering semua air matanya. Ia meratapi anaknya itu siang dan malam. Ibunya menangisinya ketika jaga, ketika tidur dalam mimpi dan dalam sadar. Tetapi nasi telah menjadi bubur semua sudah terlambat. Anaknya sudah ke laut lepas.
Karena itulah, di antara rintihan menahan haus Dang Gedunai terus saja menjerit kepada ibunya sepanjang sungai menuju laut lepas, “Ibu, saya akan pergi jauh ke hilir terus ke laut lepas, akan berubah menjadi naga sakti Dang Gedunai. Kalau ibu rindu kepada saya, pandanglah ke langit, ke tempat awan berarak. Selamat tinggal ibu, selamat tinggal ibuku!”***
Rujukan:
Cerita ini dari kumpulan Cerita Rakyat Indragiri Hulu (1997). Tidak ada penulis cerita rakyat ini. Buku ini diterbitkan Pemerintah Daerah Tk. II Indragiri Hulu. Dalam buku ini digabungkan cerita rakyat Indragiri Hulu dengan Kuantan Singingi.








