“Jangan anakku!” kata ibunya dengan nada meninggi.
“Saya suka makan telur ini, saya menginginkannya,” Dang Gedunai tidak mengacuhkan larangan ibunya. Aku akan memakan telur itu, tekad Dang Gedunai dalam hati.
Begitulah setiap hari selalu saja ada larangan ibunya, dan setiap hari pula Dang Gedunai membenamkan tekadnya dalam-dalam di batinnya.
Pada suatu hari ketika ibunya pergi ke ladang, Dang Gedunai diajak ikut serta. Tapi Dang Gedunai menolak dengan alasan sakit. Dengan begitu ia mempunyai kesempatan melakukan keinginannya. Ia merebus telur yang diperolehnya di sungai itu. Setelah telur itu masak, langsung dimakannya dengan lahap. Habis semuanya ditelannya. Enak sekali rasanya, kata Dang Gedunai gembira. Telur apapun itu, tak tahulah, tapi rasanya enak, enak sekali, seluruh dunia akan mengakuinya, kata Dang Gedunai dalam hati.
Sore harinya kembalilah ibunya dari ladang. Perempuan itu melihat Dang Gedunai sedang gelisah. Ia ke sana ke sini, hilir mudik, mencari air. Tampaknya ia kehausan sekali. Lidahnya terjulur-julur menahan hausnya yang teramat sangat. Semua dandang dan tempayan diminumnya. Kerongkongan yang terasa bagaikan terbakar.
“Ambilkan saya air, ibu!” pinta Dang Gedunai kepada ibunya.
“Buat apa air?” tanya ibunya.
“Saya haus sekali!” jawab Dang Gedunai.
Ibunya segera tahu bahwa Dang Gedunai telah melanggar larangan agar jangan memakan telur tadi.
“Sudah kukatakan, jangan sekali-kali kau makan telur itu,” kata ibunya. “Inilah jadinya yang kau dapatkan.”
Mula-mula ibunya memberi Dang Gedunai air sedayung. Dang Gedunai meminum air itu dengan sekali teguk saja. Lalu diberi pula kepadanya air setempayan. Habis pula air setempayan itu dihirupnya. Dang Gedunai merasa terus haus.
“Ambilkan saya air!” kata Dang Gedunai kepada orang-orang yang lewat di muka rumahnya. Orang-orang yang mau membantu memberi air seadanya. Dang Gedunai tidak juga merasa terobati hausnya. Karena sudah tidak ada lagi air yang dapat diberikan kepada Dang Gedunai, ia pun pergi ke perigi. Dang Gedunai meminum air pergi, air seperigi pun habis. Ia pun pergi ke perigi yang lain lagi, habis pula satu perigi. Lalu dibawa pula oleh ibunya ke sungai. Air sungai itupun habis dihirupnya. Dang Gedunai lalu dibawapula ke danau. Air danau itupun kering dihirupnya. Lalu Dang Gedunai di bawa ke laut.
“Ibu, saya akan pergi jauh menghilir sungai ini, terus ke laut lepas. Saya akan berubah menjadi naga, Dang Gedunai namanya,” demikian kata-kata terakhir yang keluar dari mulutnya.








