Scroll ke bawah untuk melihat konten
Bahasa & SastraUtama

Asal Mula Pulau Halang-Rokan Hilir

×

Asal Mula Pulau Halang-Rokan Hilir

Sebarkan artikel ini
Asal Mula Pulau Halang. (Ilustrasi: budayamelayuriau.org)

Datuk Syahbandar turun ke perahu untuk memeriksa kapal yang datang, begitu ceritanya zaman dahulu kala, sebelum Datuk Syahbandar selesai melakukan tugasnya, tidak dibenarkan orang lain turun naik kapal di Pelabuhan Pekaitan.  Ibu dan bapak si Kantan pun seolah-olah ada firasat bahwa yang datang itu adalah kapal anaknya. Dugaannya ternyata benar, setelah Datuk Syahbandar pulang dari kapal, diberitahukan bahwa yang punya kapal di laut itu adalah si Kantan anak orang miskin itu, ia datang dengan membawa seorang istri yang cantik, dan banyak barang dagangan yang dibawanya dalam kapal itu. Setelah penjelasan itu didapatnya maka dua suami-isteri pun turun pada sebuah sampan pompong, sambil membawa sebungkus nasi pais dedak  panggang keluang.

Beberapa lama ia mendayung maka sampailah ia di kapal Sampo Ago, dan menambatkan tali sampan pada tangga turun kapal itu. Si Kantan dan istrinya melihat ke bawah di mana dalam sebuah sampan pompong ada sepasang suami-istri memanggil-manggil namanya dari bawah.

Advertisement
Scroll ke bawah untuk melihat konten

Berkatalah istri si Kantan, “Bang barang kali yang memanggil-manggil di bawah itu orang tua abang,” kata isterinya.

“Bukan,” jawab si Kantan.

“Ibu bapak saya orang kaya, bukan orang miskin seperti itu, itu bukan ibu saya,” ujarnya lagi. Sejurus kemudian si ibu dan si bapak memanggil juga: “Hai Kantan, lupakah engkau akan ibu yang melahirkan dan menyusukan dan membesarkan engkau, sekarang engkau sudah lupa akan kami.” 

Baca Juga:  Panglima Gimpam-Siak Sri Inderapura

Berkata istrinya si Kantan, “Iya bang, jangan abang buat seperti ini! Itu tidak baik, kalau benar itu ibu dan bapak abang akuilah karena kalau tidak abang akan durhaka.” Sebegitu istri si Kantan merayu tidak juga diperdulikan oleh si Kantan, sedang ibunya sudah mulai naik tangga untuk ke atas kapal Sampo Ago. 

Kata isterinya lagi, “Bang lekaslah ke bawah jemput mereka itu, karena ia sudah rindu.” 

Lantas si Kantan menjawab lagi, “Itu bukan ibu bapakku. Itu adalah orang miskin di sini, ibu bapakku orang kaya tak mungkin ia seperti itu.” 

 Sedangkan si ibu tak henti-hentinya memanggil nama si Kantan, sedangkan istrinya mendesak agar diakui itu sebagai ibunya, kalau tidak ia kena kutuk durhaka. Maka si Kantan berkeras juga tak mau mengakui. Sejenak kemudian si ibu naik tangga kapal ke atas sedangkan si bapak tinggal di dalam pompong. Setiba di muka pintu masuk di atas palka mulai ibu si Kantan menangis-nangis hendak meraba anaknya, sambil berkata, “Mengapa kau Kantan sampai lupa dengan ibumu ini, tidakkah kau ingat dulu kita sama-sama miskin di Pekaitan ini, dan harta kekayaan ini berasal dari aku.”

Jawab si Kantan, “Aku tak kenal engkau dan engkau bukan ibuku, ibuku orang kaya di sini, sebentar lagi ia datang menemuiku.” 

Sekali lagi istri si Kantan Maria mendesak agar diakui ibunya itu, dan menyembah kakinya. Akhirnya tangan ibunya yang memegang terali tembaga kapal itu dipukul si Kantan, sehingga lepas, dan ibunya menangis sambil turun ke bawah langsung masuk sampan pompongnya, dan mendayung ke tepi. Sesampainya di tepi daratan Pekaitan, kedua-duanya berjalan beberapa depa dari pantai. Si ibu menghadap ke matahari terbenam dengan memijit teteknya hingga memancar ke luar air susunya ke langit, dengan permohonannya kepada Tuhan Yang Maha Kuasa, kalau benar si Kantan itu yang kukandung  sembilan bulan sepuluh hari, dan kulahirkan dari perutku ini dan kususukan dengan air susuku, maka diturunkan Tuhanlah hendaknya puting beliung dan memuput kapal Sampo Ago ini sampai tenggelam. Begitulah kaul orang tua tadi, sedangkan ayah si  Kantan tetap melihat akan kapal anaknya ke laut, si ibu tetap menghadap ke matahari terbenam.

Baca Juga:  Asal Mula Harimau Bukit Datuk-Dumai

Dengan takdir Tuhan Yang Maha Kuasa, seketika itu juga langit pun gelap, cuaca mendung sedangkan petir berbunyi sabung menyabung, maka hujan pun turun dengan deras. Kapal Sampo Ago telah berputar-putar dipuput oleh angin puting beliung. Sebelum kapal tenggelam si Kantan sudah memanggil-manggil ibunya di darat agar sumpahnya itu ditarik kembali dan ia mengakui ibu dan bapaknya, namun hal itu telah terlambat maka seketika saja kapal Sampo Ago tenggelam dan hilang dari pandangan mata, ia tenggelam di depan muara Sungai Kubu sebelah Utara, menjadi Pulau Halang Besar (Pulau Lalang) dan si ibu dan bapaknya menjadi Pulau Halang Kecil. Ibu yang menghadap ke darat menjadi sepohon pauh yang bercabang dua, satu cabangnya menghadap ke darat (si ibu) dan satu cabangnya menghadap ke laut (si bapak) yang masing-masing berbuah dua macam rasanya, yaitu dahan sebelah ke darat (ibu) berbuah masam, dan dahan sebelah ke laut (bapak) berbuah manis. Artinya si ibu tidak ada rasa ampunnya atau belas kasihan terhadap anaknya, maka ia menjadi masam, dan si bapak masih mempunyai belas kasihan terhadap anaknya si Kantan, dia menghadap ke laut melihat kapal anaknya tenggelam menjadi pauh yang berbuah manis.

Demikianlah cerita seorang anak durhaka terhadap ibu dan bapaknya pada zaman Kerajaan Rokan di Pekaitan pada masa Yang Dipertuan Besar Sungai Daun memerintah, sebagai bukti sejarah bangsa yang hingga sekarang ini masih diingat oleh putra-putri Rokan, terutama yang tinggal di Bagansiapiapi dan Kubu. Pulau Halang adalah kapal Sampo Ago dengan isinya pauh berbuah asam sedahan adalah ibunya yang sudah patah hati terhadap laku anaknya si Kantan, dan pauh berbuah manis sedahan adalah bapak si Kantan.***

Baca Juga:  Memancing di Jepun-Cerita Yong Dollah

Cerita Rakyat Rokan Hilir, ada juga versi yang menyebutkan Pulau Halang dengan Pulau Lalang.

Rujukan:
Derichard H. Putra, dkk. 2007. Cerita Rakyat Daerah Riau. Pekanbaru: Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Provinsi Riau

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *