Scroll ke bawah untuk melihat konten
Bahasa & SastraUtama

Asal Mula Pulau Halang-Rokan Hilir

×

Asal Mula Pulau Halang-Rokan Hilir

Sebarkan artikel ini
Asal Mula Pulau Halang. (Ilustrasi: budayamelayuriau.org)

Pada keesokan harinya si Kantan pun pergi bertemu dengan orang tongkang membawa atap nipah ke Pulau Pinang. Setelah ia menceritakan maksudnya, orang tongkangpun maklum, katanya besok lusa berlayar. 

“Kantan, pagi-pagi engkau sudah berada di sini,” pesan pemilik tongkang.

Advertisement
Scroll ke bawah untuk melihat konten

Pada besok pagi tampaklah tiga orang beriring berjalan menuju ke pelabuhan  Pekaitan karena si Kantan akan berlayar. Ia dihantar bapak dan emaknya. Sesampai di tongkang, emak dan bapak si Kantan memberikan pesan petaruh pada anak tongkang agar anaknya dijaga baik-baik, ia juga membekali anaknya dengan sebungkus nasi pais dedak panggang keluang. Sebelum bertolak si Kantan sibuk mengemaskan barangnya ke dalam celah atap nipah supaya jangan sampai diketahui oleh anak tongkang.

Beberapa saat kemudian angin pun berembus dari selatan dan layar tongkang sudah dikembang oleh anak tongkang. Si Kantan pun ikut sibuk membantu menarik tali pakai layar dan memegang ambangnya.

Setelah selesai semuanya maka tongkang pun diarahkan ke laut menuju utara. Emak dan bapak si Kantan melihat tongkang itu sampai jauh seraya melambai-lambaikan tangan, sambil berseru berkali-kali.

“Baik-baik di kampung orang nak!”

Lama kelamaan tongkang itu pun hilang dari pandangan mata. Emak dan bapak Kantan pun beranjak pulang sambil menghapus air mata mereka, dan bermohon kepada Tuhan Semesta Alam agar anaknya selamat pergi dan selamat pulang.

Baca Juga:  Legenda Putri Sintong

Beberapa saat sampailah si ibu dan si ayah di rumahnya dengan merasa sedikit lesu, karena berpisah dengan anak tunggal yang kesayangan mereka.

Masa beralih musim berganti, si Kantan sampailah ke Pulau Pinang. Setelah  tongkang ditambatkan sebelum atap dibongkar oleh empunya, si Kantan pun naik ke darat membawa bungkusan rebung semambunya tanpa diketahui anak-anak tongkang. Sampai di darat si Kantan bertemu dengan saudagar kaya di Pulau Pinang, dan menjual rebung semambunya itu dengan harga lima laksa ringgit tongkat. Oleh si saudagar si Kantan dinasehati agar ringgitnya dijaga baik-baik.

“Jangan sampai dirampok orang, Kantan,” kata saudagar.

Setelah ringgit diterima si Kantan, ia menyewa tempat pada satu jalan, lengkap dengan alat-alat rumah tangga dan pelayan serta babu untuk memasak.

Memang si Kantan ini sejak kecil ia tergolong seorang anak yang cerdik dan pintar, justru itu ia sampai di Pulau Pinang dengan kekayaan yang ada di tangannya itu tidaklah ia terkejut. Tentang tongkang yang ditumpangi si Kantan habis muatan lalu diisi barang-barang untuk dibawa kembali ke Pekaitan. Pada keesokan harinya, setelah si Kantan ditunggu dan dicari ke darat tiada bertemu. Tongkang bertolak kembali ke Pekaitan.

Beberapa hari dalam perjalanan mengarungi Selat Melaka, sampailah tongkang yang ditumpangi si Kantan di Pekaitan dengan selamat. Setelah berlabuh dan merapat ke pelabuhan, maka dilihat oleh orang tongkang emak dan bapak si Kantan menunggu di tepi dengan seketika itu juga menanyakan anaknya si Kantan tinggal di mana. Karena tak ada dilihat si Kantan dalam tongkang, emak Kantan pun bertanya.

Baca Juga:  Asal Mula Pulau Kapal-Meranti

“Di mana si Kantan,” tanya sang emak,

“Setelah naik di Pulau Pinang membawa bungkusannya si Kantan tidak turun-turun lagi ke tongkang ini,” jawab pemilik Tongkang. 

“Kami sudah cari ke mana-mana. Ke hulu ke hilir, ke darat dan ke baruh. Kami tidak berjumpa. Oleh karena itu, kami terpaksa kembali,” jelas salah seorang  anak tongkang yang lainnya.

Demikianlah setelah si ibu dan si ayah mendapat berita anaknya tidak pulang bersama-sama dengan tongkang yang membawa atap, kedua-duanya terdiam sejurus sambil berpandangan satu sama lainnya, dan mereka pun pulanglah ke rumahnya di Pekaitan. Ia berkata dengan sesamanya, bahwa pada suatu waktu anaknya akan kembali juga kepada ibunya. Bak kata pepatah, setinggi-tinggi bangau terbang, surutnya ke kubangan jua. Setelah beberapa bulan antaranya si Kantan berada di Pulau Pinang, maka terpikir dalam hatinya hendak berumah-tangga (kawin). Dicarinya di mana-mana di Pulau Pinang seorang gadis yang cocok dengannya.

Pada suatu hari ia berjalan-jalan di toko-toko dan pada satu toko besar ia berjumpa dengan seorang perempuan cantik. Kulitnya putih kuning rambutnya keriting, orangnya tinggi semampai dan biji matanya biru. Lantas ditegur si Kantan:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *