“Nona mau ke mana.”
Nona itu pun menjawab, “Tidak ke mana-mana tuan, hanya melihat-lihat barang-barang di toko ini saja.”
“O… begitu,” kata si Kantan. “Samalah dengan saya tak punya tujuan tertentu hari ini, kalau nona mau mari kita berjalan-jalan sepanjang pantai Pulau Pinang ini!”
Setelah mufakat keduanya bergandengan tangan sambil bercakap-cakap dan saling menanya hal masing-masing. Ternyata si nona adalah peranakan Portugis beragama Nasrani, sedangkan ibunya orang Cina. Selama dalam perjalanan itu mereka telah dapat mengikat hati masing-masing dan telah membuat suatu perjanjian untuk menikah.
Pada keesokan harinya si Kantan tampak telah membawa istrinya pulang ke rumahnya. Setelah ia kawin hatinya bertambah senang karena telah ada kawan mufakat dan berunding. Beberapa lamanya setelah ia kawin, ia mengajak istrinya duduk pada sisi rumahnya, bercakap-cakap sambil menanyakan pada istrinya bagaimana mempergunakan uang yang sebanyak ini. Jawab istrinya baik dibelikan sebuah kapal. Setelah mufakat maka si Kantan pergi membeli sebuah kapal. Dalam kapal tersebut dilengkapi dengan jurumudi, jurubatu, tukang masak, dan beberapa orang kelasi.
Setelah kapal itu lengkap semuanya maka suami-isteri si Kantan dan Maria tinggal di kapal itu, sebagai camcunya si Kantan sendiri sedangkan juru kunci diserahkannya pada istrinya Maria. Beberapa lamanya, tahun berganti bulan, bulan berganti hari, hari pun berganti hari masa beralih, musim beredar, beberapa lamanya si Kantan dengan istrinya berlayar, berniaga sampai ke Eropa dan India. Termasyhurlah namanya sebagai orang yang terkaya di waktu itu. Pada waktu itu tidak mudah bagi seorang saudagar bangsa Melayu memiliki sebuah kapal yang begitu besar. Lama-kelamaan si Kantan menjadi kaya-raya, kapalnya diberi nama Sampo Ago. Sampo Ago ialah nama seorang Cina yang mula-mula masuk tanah Melayu, dan sekarang ini ada tugunya di Melaka yang setiap tahun di kunjungi penduduk Cina di Melaka khususnya, dan wilayah Melayu umumnya. Sehingga si Kantan pun dipanggilkan orang dengan nama Sampo Ago, nama kapalnya tadi.
Demikianlah beberapa tahun lamanya si Kantan bersama isterinya Maria dalam Kapal Sampo Ago itu berlayar berniaga sampai ke benua Eropa dan benua Cina, sehingga ia terkenal sebagai seorang yang kaya-raya, dan mempunyai harta yang banyak di Pulau Pinang. Pada suatu hari istri si Kantan bertanya dimana negeri, dan siapa, ibu dan bapaknya, apakah mereka masih hidup, atau sudah mati. Pertanyan ini lama juga baru dijawab oleh si Kantan, karena malunya punya ibu bapak orang miskin. Karena didesak juga oleh istrinya Maria, maka ia menceritakan bahwa ibu bapaknya seorang yang kaya raya, dan tinggal di Negeri Rokan, Pekaitan nama negerinya, dijelaskan lagi oleh si Kantan, bahwa kekayannya ini berasal dari orang tuanya dan mereka masih hidup sekarang. Si istri mendesak agar ia pergi berlayar ke tempat orang tuanya.
“Tak patut rasanya adinda kawin dengan kanda tidak dipertemukan dengan mereka,” ujar istri Kantan.
Desakan ini diterima si Kantan dengan sebaiknya. Maka beberapa lamanya Kapal Sampo Ago bertolak dari Pulau Pinang menuju Pekaitan. Setelah beberapa lama di jalan, sampailah kapal Sampo Ago dan berlabuh di tengah laut di muka pelabuhan Pekaitan, atau di depan muara Sungai Kubu, karena kapal itu tidak bisa merapat ke tepi lantaran terlalu besar. Sesudah berlabuh maka dibunyikan tempait (sirene) tanda kapal besar sudah berlabuh. Maka ramailah orang berdatangan melihat kapal yang besar itu termasuk juga ibu dan bapak si Kantan.








