Scroll ke bawah untuk melihat konten
Bahasa & Sastra

Asal Mula Kampung Seberang-Kuantan Singingi

×

Asal Mula Kampung Seberang-Kuantan Singingi

Sebarkan artikel ini
Asal Mula Kampung Seberang. (Ilustrasi: budayamelayuriau.org)

 Orang-orang yang melihat cendawan itu berpikir bahwa air yang terdapat dalam cendawan itu pastilah sejenis upas atau racun berbisa. Oleh sebab itulah, mereka menamakan cenda­wan itu cendawan racun atau cendawan upas.

Dan, yang menjadi orang-orang heran sebab di dekat cendawan racun itu tumbuhlah sebatang rotan manau yang amat besar. Betapa tidak setelah dilihat rotan manau itu, ternyata pangkal dan ujungnya bertemu  di tempat itu juga. Orang-orang pun makin penasaran. Akhirnya mere­ka menyelusuri rotan, hingga mengelilingi bukit itu berputar-putar akhirnya sampailah pada ujungnya yang terletak di dekat pangkalnya. Orang-orang pun kelelahan.

Advertisement
Scroll ke bawah untuk melihat konten

Oleh karena hari telah terlalu petang, mereka pun bermufakat pulang kembali ke kampung. Setibanya di kampung, me­reka kembali ke rumah masing-masing. Hasil perburuan dibagi-bagi dan dimasak, kemudian dimakan bersama-sama. Ada yang langsung tidur karena terlalu letih sehabis berburu. Keesokan harinya orang-orang yang ikut berburu itu menceritakan pengalamannya kepada penduduk kampung, semenjak dari anjing mengejar kancil ke seberang sungai, bertemu cendawan beracun, sampai kepada rotan manau yang melingkar mengelilingi bukit. Konon, kejadian-kejadian itu bertanda akan datang bencana besar.

Setelah mendengar semua cerita itu diadakanlah musyawarah kampung. Maka berkumpullah orang-orang kampung. Musyawarah itu diikuti oleh para lelaki, baik yang tua atau pun yang muda, sekiranya memang pentas untuk bermusawarah, maka datanglah. Musyawarah itu  di pimpin oleh tetua kampung.

Baca Juga:  Legenda Bujang Tiu

“Assalamualaikum! Bapak-bapak dan anak-anak muda kampung, yang besar tak disebutkan gelar, yang kecik tak disebutkan nama,” sapa tetua kampung membuka musyawarah.

“Sengaja kita mengadakan musyawarah kerana ada perkara yang sangat pelik yang harus kita bicarakan,” jelas tetua kampung. Orang-orang diam. Perkara ini harus diputuskan.

“Kerena kondisi kampung kita ni dah mulai tak aman, bagaimana kalau kita pindah tempat lain?” Usul tetua. Ia mengedarkan pandangannya ke seluruh masyarakatnya. Semua diam. Hening. Tiba-tiba terdengar suara dari barisan belakang, lelaki separu baya,

“Kalau memang kita harus pindah, tempat mana yang akan kita tuju?” Tanya bapak paruh baya itu.

“Kita akan pindah ke tempat yang ditemukan oleh orang-orang berburu semalam.” Jawab tetua kampung.

“Bagaimana? Apakah Saudara-saudara sepakat?” Tanya tetua kampung lagi.

“Sepakat!” Jawab orang-orang serentak.

Setelah tercapai kata mufakat. Masyarakat pulang ke rumah-rumahnya masing-masing. Keesokkan harinya, masyarakat mulai berbondong-bondong menuju ke tempat yang sudah ditentukan. Pindah!

Setelah sampai ke tempat tujuan, kemudian mereka menebang hutan di dekat bukit seberang. Setelah selesai pondok-pondok didirikan, berangsur-angsurlah mereka pindah ke kampung baru itu. setelah tinggal di kampung itu beberapa tahun lamanya, keadaan kampung aman dan tenteram saja. Kemudian mereka berkeinginan untuk tinggal di tempat itu untuk selama-lamanya. Akhirnya kampung itu diberi nama Koto Tinggi.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *