Setelah sepakat dan sepaham, mulailah mereka menebang kayu, menebas semak belukar. Akhirnya Bukit Dusun Seberang itu bersih dan terang. Setelah itu mulailah mereka mendirikan dua buah pondok. Lalu dibawanya keluarganya tinggal bersama-sama. Pondok menghadap ke sebelah hulu sungai adalah pondok Datuk Topo dan yang menghadap ke sebelah hilir sungai adalah kepunyaan Siak Pokia.
Penghidupan mereka sehari-hari berladang dan menangkap ikan. Lama kelamaan keturunannya semakin berkembang juga. Rumah-rumah bertambah banyak akhirnya menjadi sebuah kampung yang bernama Kampung Seberang. Hidup mereka selalu dalam keadaan damai dan aman.
Sampailah suatu hari, suasana yang damai menjadi gempar karena mereka diserang oleh pacat dan hantu keburu yang suka mengejar-ngejar manusia. Orang jadi takut pergi ke hutan karena sudah banyak orang tua atau anak-anak yang diserang oleh pacat.
Pada suatu ketika rakyat di Dusun Seberang itu bermufakat untuk berburu kancil. Untuk berburu kancil diperlukan anjing-anjing pemburu. Setelah didapatkan kata sepakat, diajaklah orang-orang yang memelihara anjing di kampung itu pergi berburu.
Setelah siap semua alat perlengkapan, bekal-bekal, dan sebagainya yang diperlukan untuk berburu, maka berangkatlah mereka ke dalam hutan belukar yang tidak jauh letaknya dari dusun itu. Setelah berhari-hari berburu, ada yang berhasil mendapat beberapa ekor kancil, tapi ada pula yang tidak mendapat barang seekor pun.
Ketika hari menjelang malam, senja hampir musnah. Sang raja siang pun dah dekat ke peraduannya. Bertanda sebentar lagi siang akan bersilang dengan malam. Tiba-tiba terdengar bunyi orang berteriak.
“Hari sudah petang, apakah kita pulang atau terus berburu?” Bersamaan dengan teriakan itu terdengarlah anjing menggonggong dengan ramainya. Ketika pemburu-pemburu itu melihat ke tempat anjing itu menggonggong, nampaklah seekor kancil yang sedang terdesak tak dapat lari dan dikepung anjing. Terheran-heranlah orang-orang melihat kejadian itu. Hingga tak sempat menjawab teriakan tadi.
Pada akhirnya, kancil itu nekad pula terjun ke sungai. Anjing yang mengejar kancil itu terjun pula ke dalam sungai dan terus memburu hingga ke seberang sungai, naik ke darat dan menghilang masuk ke semak-semak sambil menggonggong. Orang-orang yang punya anjing-anjing itu ikut pula menyeberang sungai.
Sesampainya di seberang sungai ia terus mengikuti anjing itu sambil memanggil-manggil anjingnya. Tapi anjing tersebut tidak juga mau datang dan terus menggonggong. Timbullah pertanyaan dalam hati masing-masing.
“Mengapa anjing ini tak mau pulang?” Akhirnya bunyi gonggong anjing-anjing itu terdengar di bukit di depan mereka. Kemudian mereka naik ke atas bukit tersebut dan anjing-anjing itu berhenti menggonggong. Mereka mengira anjing itu telah dapat menangkap kancil yang dikejar. Akan tetapi herannya, orang-orang itu bukan melihat kancil, tetapi cendawan besar kira-kira sebesar payung orang dewasa. Mereka mendekati dan dilihatnya dalam cendawan itu ada air. Dan terdapat bermacam-macam bangkai binatang dan tulang-tulang burung.








