Sementara itu, berita kedatangan Tuaka terdengar pula oleh emaknya. Emaknya bergegas menyongsong kedatangan anak lelakinya yang bertahun-tahun tak terdengar kabar beritanya tersebut. Karena rindu tak terbendung ingin bertemu anaknya, Emak Tuaka pun bersampan mendekati kapal megah Tuaka.
“Tuaka, Anakku. Emak sangat merindukanmu, Nak!” Teriak Emak Tuaka saat melihat Tuaka dan istrinya di atas kapal megah itu.
“Siapa gerangan wanita tua itu, Kakanda? Mengapa dia menyebut Kakanda sebagai anaknya?” Tanya istri Tuaka dengan wajah tidak senang.
Tuaka terkejut bukan kepalang melihat emaknya di atas sampan berteriak memanggilnya. Dia tahu wanita dengan pakaian compang-camping itu adalah emaknya, tapi tak diakuinya. Dia sangat malu pada istrinya.
“Hei, jauhkan wanita miskin itu dari kapalku. Dasar orang gila tak tahu diri! Beraninya dia mengaku sebagai emakku,” teriak Tuaka dari atas kapal.
“Ya, usir dia jauh-jauh dari sini,” tambah istri Tuaka sambil bertolak pinggang. Mendengar perintah dari tuannya, anak buah Tuaka segera mengusir wanita miskin nan malang itu menjauh dari kapal.
Emak Tuaka sangat bersedih. Sambil menangis dia bersampan menjauhi kapal Tuaka.
“Ya Allah! Ampunilah dosa Tuaka karena telah durhaka kepadaku. Berilah dia peringatan agar menyadari kesalahannya,” ratap Emak Tuaka sambil menangis. Rupanya Tuhan mendengar doa Emak Tuaka.
Sesaat setelah doa emak Tuaka terucap, tiba-tiba Tuaka berubah menjadi seekor burung elang. Begitu pula istri Tuaka, dia berubah menjadi seekor burung punai. Emak Tuaka sangat terkejut dan sedih melihat anaknya yang telah berubah menjadi burung. Walaupun Tuaka telah menyakiti hatinya, sebagai seorang ibu ia sangat mencintai anaknya.
Burung elang dan burung punai tesebut terbang berputar-putar di atas muara sungai sambil menangis. Air mata kedua burung itu menetes, membentuk sungai kecil yang semakin lama semakin besar. Sungai itu kemudian diberinama nama Sungai Tuaka.
Kemudian oleh masyarakat setempat mengganti kata ‘sungai’ ke dalam bahasa Melayu menjadi ‘batang’. Sejak itu pula, daerah di sekitar muara sungai tersebut diberi nama Batang Tuaka yang kini dikenal dengan Kecamatan Batang Tuaka yang berada dalam wilayah Indragiri Hilir.
Rujukan:
Derichard H. Putra, dkk. 2008. Cerita Rakyat Daerah Riau. Pekanbaru: Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Provinsi Riau








