Scroll ke bawah untuk melihat konten
Bahasa & Sastra

Asal Mula Batang Tuaka-Inderagiri Hilir

×

Asal Mula Batang Tuaka-Inderagiri Hilir

Sebarkan artikel ini
Batang Tuaka. (ilustrasi: budayamelayuriau.org)

“Ya, mari kita bawa pulang, supaya kita bisa obati di rumah,” jawab Emak Tuaka. Tuaka lalu memasukkan ular itu ke dalam keranjang yang dibawa emaknya, lalu memikulnya pulang. Sampai di rumah, Emak Tuaka segera mencari daun-daunan yang berkhasiat, menumbuknya, lalu membubuhkannya pada luka-luka di tubuh ular itu, sedangkan Tuaka sibuk memberinya minum air sejuk.

Beberapa hari kemudian, ular yang sudah mulai sembuh itu tiba-tiba hilang dari keranjang. Permata yang selalu dia lindungi di dalam lingkaran badannya ditinggalkan di dalam keranjang. Tuaka dan emaknya terheran-heran, lalu mereka mengamati parmata itu dengan hati-hati dan cermat.

Advertisement
Scroll ke bawah untuk melihat konten

“Mengapa ular itu meninggalkan permatanya, Mak?” Tanya Tuaka kepada emaknya.

“Berangkali dia ingin berterima kasih kepada kita, karena kita sudah menolongnya. Sebaiknya kita jual saja permata ini kepada saudagar. Uangnya kita gunakan untuk berdagang supaya kita tidak hidup misikin lagi” jawab emak Tuaka penuh rasa syukur. Tuaka pun setuju dengan tawaran emaknya.

Keesokan harinya, Tuaka pergi ke bandar ramai para saudagar. Sesampai di sana, Tuaka berkeliling ke sana ke mari mencari saudagar yang berani membeli permatanya dengan harga yang tinggi. Hampir semua saudagar di bandar itu tak ada yang berani membelinya. Ia mulai putus asa dan berniat membawa pulang ke rumah. Namun, ketika sampai di ujung bandar, tiba-tiba ia melihat seorang saudagar yang sepertinya belum ia tawar. Tuaka menghampiri saudagar itu, kemudian menawarkan permatanya dengan harga yang tinggi. Tampaknya, saudagar itu sangat tertarik setelah mengamati permata berkeliau itu.

Baca Juga:  Cerita Rakyat Kepulauan Meranti

“Aduhai elok sangat batu permata ini! Aku sangat ingin memilikinya. Harga yang kau tawarkan itu memang tinggi, tapi aku tetap akan membelinya,” kata sang Saudagar.

“Kalau begitu, apa lagi yang Tuan tunggu? Tuan hanya tinggal membayarnya,” desak Tuaka dengan hati berdebar karena bahagia.

“Uang yang aku bawa tak cukup, Nak! Jika kamu mau, kamu boleh ikut denganku ke Temasik (Singapura) untuk mengambil kekurangannya,” kata sang Saudagar. Tuaka tampak termenung sejenak memikirkan tawaran sang saudagar.

“Ehm, baiklah Tuan. Saya nak ikut Tuan ke Temasik,” jawab Tuaka. Setelah itu, Tuaka pulang ke rumahnya untuk menceritakan masalah ini pada emaknya. Akhirnya, emak Tuaka mengizinkannya berangkat ke Temasik. Tuaka dan saudagar kaya itu berlayar menuju Temasik. Sepanjang perjalanan, Tuaka tak henti-hentinya membayangkan betapa banyak uang yang akan diperolehnya nanti.

Setibanya di Temasik, sang Saudagar membayar uang pembelian permata kepada Tuaka. Karena uang yang berlimpah tersebut, Tuaka lupa kepada ibu dan kampung halamannya. Dia menetap di Temasik.

Beberapa tahun kemudian Tuaka telah menjadi saudagar kaya. Dia menikah dengan seorang gadis elok rupawan. Rumahnya sangatlah megah, kapalnya pun banyak. Hidupnya bergelimang dengan kemewanan. Dia tak lagi peduli emaknya yang miskin dan hidup sendirian, entah makan entah tidak.

Suatu ketika, Tuaka mengajak istrinya berlayar. Kapal megah Tuaka berlabuh di kampung halaman Tuaka. Sebenarnya Tuaka masih ingat dengan kampung halamannya tersebut. Akan tetapi, rupanya dia enggan menceritakan kepada istrinya bahwa di kampung yang mereka singgahi tersebut emaknya masih hidup di sebuah gubuk tua. Dia tak mau istrinya mengetahui bahwa dirinya adalah anak seorang wanita yang sudah tua renta dan miskin.

Baca Juga:  Legenda Puti Piturani

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *