Sesampai di Pantai Solop, Musafir Muda tercengang tiada tara. Tak salah ia menuju negeri itu, pantainya indah berpasir putih, ombak menghempas menggulung lembut, nyiur melembai ditiup angin. Nun tinggi di sana, beraltar langit biru, camar putih memekik riuh rendah, seekor camar lain datang mendekat, mereka bergelut, berkejar-kejaran, dan melayang tinggi di angkasa. Mungkin itu kekasihnya! Guman Musafir Muda. Rasa letihnya hilang, penat pun tidak terasa lagi.
Namun, musafir Muda melamun sesaat, sepertinya ada sesuatu yang terpikirkan.
“Tapi! Di manakah tempat sang guru itu?” katanya pada diri sendiri. “Bukankah tidak ada siapa-siapa di pantai ini?” ujarnya lagi.
Lelah mata memandang. Ia tidak juga menemukan siapa-siapa di pantai itu. Di tengadahkan kepalanya ke atas, nampak di langit biru camar putih masih bergelut bergurau canda dengan kekasihnya, gerimis tipis pun mulai datang menerpa dan menghapus gores-gores keletihan di wajahnya. Sesaat ia terdiam, Ia layangkan pandangannya ke kiri dan ke kanan, namun apa yang dicarinya tidak juga ditemukan, pantai itu sunyi senyap, seperti pantai mati yang tiada berpenghuni.
Di tengah kegalauan, tiba-tiba dari jauh ia melihat seseorang menuju ke arahnya. Mulanya ia tidak yakin, namun setelah agak lama, ketika orang itu kian mendekat, hatinya mulai legah. Berarti memang ada kehidupan di tempat ini, gumannya. Namun ketika orang itu betul-betul berada di dekatnya, hanya beberapa langkah saja darinya, ia mulai ragu, hatinya bimbang, ternyata orang itu adalah seorang perempuan cantik nan elok rupawan, rambutnya hitam lebat panjang terurai di balut selendang putih, bola matanya bulat berbinar tajam berhias alis mata lengkungan bulan sabit, hidungnya bangir tidak mencung, mukanya semu kemerah-merahan.
“Apakah betul ia seorang manusia!” pikir musafir muda. “Jangan-jangan ia seorang bidadari yang turun dari khayangan” gumannya bingung.
“Abang mau kemana, sepertinya abang baru di tempat ini,” sapa perempuan itu lembut, ia tersenyum, bibirnya merah, giginya putih berbaris rapi.
Laksana tersihir, musafir muda terdiam tidak bergerak, ia tidak yakin perempuan itu menyapanya.
“Abang mencari siapa?” sapa perempuan itu lagi, ia kian mendekat.
Musafir muda masih terdiam tidak percaya. Ia ingin lari lungkang pungkang. Jangan-jangan ia hantu jambangan yang ingin menyantapnya, bukankah tidak siapa-siapa di tempat ini, dan mustahil juga ada perempuan cantik yang hidup di tengah hutan seorang diri, pikirnya ketakutan.
“Namaku Suri, kalau abang ada keperluan, datang saja ke tempatku, rumahku ada di ujung sana, di balik hutan ini”
“Tapi…” musafir muda tidak melanjutkan kata-katanya, ia masih ragu, ia masih tidak percaya dengan apa yang ada di hadapannya.
“Tapi apa…” sela yang mengaku bernama Suri itu, ia mundur beberapa langkah ke belakang, ia juga mulai ragu, jangan-jangan lelaki ini ingin mencelakakanku, bisiknya.
“Tapi, kenapa kamu bisa ada di tempa ini,” tanya musafir muda. Setelah mengumpulkan sisa-sisa kekuatan di hatinya.
“Aku tinggal di sebalik hutan di sebelah sana, kampung kami di situ” jawab perempuan itu sopan.
Mendengar pengakuan gadis itu, musafir muda menjadi tenang, hatinya tidak ragu lagi, berarti tempat yang kutuju tidak salah, pikirnya. Namun ia tetap tidak berkedip menatap perempuan itu.
“Abang jangan menatapku serupa itu, aku jadi takut” kata gadis itu lagi.








