Scroll ke bawah untuk melihat konten
Bahasa & Sastra

Dang Gedunai

×

Dang Gedunai

Sebarkan artikel ini
Dang Dagunai. (Ilustrasi: budayamelayuriau.org)

DAHULU kala adalah seorang lelaki, Dang Gedunai namanya. Ia seorang yang pengikut jelek. Ketika orang menangguk ikan di sungai, ia pun ikut menangguk. Orang-orang lain mendapat ikan, Dang Gandunai mendapat telur.

”Dang Gedunai ooo Dang Gedunai !” kata orang-orang mengejeknya.”Telur apakah yang kau dapatkan itu?”

Advertisement
Scroll ke bawah untuk melihat konten

Telur badak berangkai-rangkai seadanya,” jawab Dang Gedunai.

”Badak tidak bertelur, Dang Gedunai. Badak beranak. Satu anaknya,” kata seorang lain pula.

”Lebih baik jangan kau bawa tekur ini, Dang Gedunai!” kata orang lain menasehatinya.

”Tapi saya suka telur ini,” jawab Dang Gedunai degil.

Begitulah cerita seterusnya. Orang menangguk dapat ikan, Dang Gedunai Menangguk dapat telur.

Lalu pulanglah ia kerumah, di muka pintu rumahnya sudah menanti ibunya.

“Apa yang kau dapat menangguk hari ini, Dang Gedunai!” Kata Ibunya lagi

“Orang menangguk dapat ikan, Dang Gedunai menangguk dapat telur,” jawab Dang Gedunai meniru teman-temannya di sungai. “Ah memangnya peduli apa?” kata Dang Gedunai dalam hati.

“Telur apa ini agaknya?” tanya sang ibu.

“Iya, telur apa ini agaknya?” sahut Dang Gedunai meniru ucapan ibunya.

Ibunya diam saja melihat tingkah aneh anaknya.

“Telur badak berangkai-rangkai,” jawab Dang Gedunai memastikan.

“Badak tidak bertelur, anakku,” kata ibunya, “Badak beranak. Beranak satu. Tidak ada yang bertelur.” jelas ibunya lagi.

Baca Juga:  Legenda Gua Pelintung-Kota Dumai

“Telur badak berangkai-rangkai,” tegas Dang Gedunai meyakinkan ibunya.

“Badak tidak bertelur, kamu harus tahu itu,” sergah ibunya. Tapi Dang Gedunai terus saja membantah kata-kata ibunya.

Akhirnya ibu Dang Gedunai memperhatikan telur yang dapat ditangguk anaknya dengan seksama. Ibunya membolak-balik telur itu. Tiba-tiba perempuan tua itu terkejut.

“Ini telur naga!” kata ibu Dang Gedunai. ”Jangan sekali-sekali kau mainkan telur itu apalagi memakannya,” ibunya memperingatkan.

“Tapi ibu…,” Dang Gedunai memberengut.

 ”Jangan kau mainkan telur itu, nanti termakan,” larang ibunya lagi.

“Saya suka sekali dengan telur ini,” kata Dang Gedunai. “Mana mungkin naga datang ke sungai itu? Ini bukan telur naga. Saya akan memakannya. Saya suka telur ini.”

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *