Oleh: Kalam Enau
BEL sekolah berdentang panjang. Anak-anak berhamburan keluar kelas seperti kawanan burung yang baru saja dilepaskan dari sangkar. Riuh, berlarian, tertawa bercampur aduk dengan suara sapaan dan kursi yang bergeseran dengan lantai. Suasa seperti itu tak ubahnya adegan perang antar geng di Meksiko sana. Mereka terbalik tertelentang seperti tak sabar menyambut kebebasan setelah seharian terkurung dalam kastil tua dan pengap.
Aku ikut melangkah bersama teman-teman lain. Dari lantai dua, aku sempat menengok ke arah gerbang sekolah. Di sana, sosok yang paling kukenal sudah menunggu: Ayah. Dengan motor tuanya yang suaranya khas, dengan pakaian sederhana yang selalu sama. Ia memang tak pernah peduli pada mode.
Ada rasa hangat sekaligus sesak di dada. Teman-temanku dijemput dengan mobil mengilap atau ayahnya yang rapi berjas. Ayahku hanya berdiri tenang, dengan wajahnya yang teduh dan keringat masih menempel di dahinya.
Aku menarik napas dalam. Rasanya lututku mendadak lemas. Dalam hati, aku sempat bertanya-tanya, sampai kapan ayah akan terus menjemputku dengan motor butut itu, dengan nuansa klasik yang selalu sama?
Ada bagian dari diriku yang ingin berlari cepat ke gerbang, memeluknya, lalu pulang bersama tanpa peduli apa kata orang. Tapi, ada juga bisikan kecil yang membuat wajahku panas—takut jadi bahan candaan teman-teman, takut dipandang sebelah mata.
Aku menunduk sambil menggenggam erat tali tas.
“Kenapa aku harus malu?” bisikku pelan.
Ayah mungkin tak punya banyak, tapi ia selalu ada. Dan keberadaannya di sana, menunggu tanpa lelah, bukankah itu jauh lebih berharga?
Tapi pada satu sisi, sebagai gadis remaja, aku juga ingin sekali rasanya dijemput dengan mobil ber-AC. Duduk nyaman tak perlu lagi membawa kipas portabel ke mana-mana hanya untuk menahan panas sepanjang jalan pulang. Aku ingin seperti teman-temanku yang bisa bercermin di kaca mobil, merapikan rambut, atau sekadar bersandar tanpa khawatir debu jalan menempel di wajah.
Namun kenyataannya, aku tetap melompat ke jok belakang motor butut itu—dengan cat terkelupas, jok yang sobek digaruk kucing, dan suara knalpotnya yang serak. Semua terasa jauh dari kata keren, tapi… itu milik ayah. Dan entah kenapa, semakin aku mencoba menolak rasa malu itu, semakin jelas aku mendengar suara hatiku sendiri: tanpa motor itu, tanpa ayah, mungkin aku tak akan pernah bisa sampai sejauh ini.
Aku tidak langsung melangkah ke gerbang sekolah. Tas di pundak terasa berat, meski isinya hanya buku. Aku memilih singgah dulu ke kantin pura-pura membeli es teh dan mengulur waktu. Aku berharap, ketika aku benar-benar keluar nanti, teman-teman tidak lagi ramai di depan gerbang.
Sambil menyeruput es teh yang bahkan tak terasa segar, aku melirik ke arah gerbang dari kejauhan. Ayah masih ada di sana. Ia duduk di jok motor sambil sesekali mengipas dirinya dengan tangan. Waktu seakan berhenti hanya untuk menunggu aku keluar.


